Friday, September 30, 2016

Rumah Pengasuh Anak Kanker Aceh



Oleh: Adi Warsidi

Dua anak santai bercanda ditemani dua ibu di halaman rumah yang sempit. Satu dipanggil Azrina (4 tahun) dan satu lagi Dila (8 tahun). Tak seperti anak biasa, Azrina bertubuh kurus dan Dila dengan benjolan dan bekas luka di bagian matanya.

Saat sya datang bersama empunya rumah, Ratna Eliza, Rabu sore 27 Juli 2016, mereka menghampiri. “Ayo salami tamu,” kata Ratna. Mereka patuh.

Membangkitkan Seni Rapai, Indentitas Aceh



Oleh: Adi Warsidi

Usai ustad menutup doa pembukaan acara, satu persatu penari dan penabuh raik menjejak ke atas panggung utama. Di tangannya aneka rapai, besar kecil. Ada 150 orang akan menampilkan sebuah karya “Sa”.

Barisan dibentuk rapi geleng di depan, rapai pasee yang besar digantung pada rangka besi di kiri dan kanan panggung, penabuhnya berdiri. Ada juga penabuh rapai tuha lainnya yang duduk di tengah-tengah. Selanjutnya paling belakang, ada alat musik modern, drummer dan gitar.

Thursday, May 12, 2016

Susuri Hutan Aceh, Kiprah Pasukan Gajah dari Trumon

Adi Warsidi

Banda Aceh – Empat gajah berjalan beriringan. Tuah melangkah gagah di depan, disusul Siska lalu Nani dan terakhir Bayu. Di atasnya masing-masing Mahout memandu berjalan dari Corservation Response Unit (CRU) Trumon ke sebuah sungai. Ingin mandi pagi.

Tempo bermalam di rumah mereka Sabtu dua pekan lalu, 16 April 2016, Desa Naca, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, sekitar 500 kilometer dari Banda Aceh. Kawasan itu berada dalam Koridor Alam Leuser, penghubung Suaka Marga Satwa dengan areal Taman Nasional Gunong Leuser (TNGL).

Monday, May 9, 2016

Susuri Hutan Aceh, Kisah Cinta Gajah di CRU Trumon

Oleh: Adi Warsidi


Banda Aceh – Pelepah kelapa yang disediakan dipatahkan dengan belalai dan kakinya, lalu dimasukan ke dalam mulutnya yang lebar. Gajah Nani tak berhenti mengunyah makanan paginya pada Sabtu pekan lalu, 16 April 2016, saat kami mengunjungi rumahnya di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan.

Thursday, February 25, 2016

Mata Biru Entah Kemana (2)

Rep: Adi Warsidi
[Liputan 10 tahun tsunami Aceh, Majalah Tempo Desember 2014]


“Kalau beruntung (menemukan keturunan Portugis), saat Idul Adha banyak keturunan Lamno yang balik kemari, untuk mengikuti tradisi Seumuleng (menyuapi raja),” kata Aksa Mulyadi, Juru Pelihara Makam Raja Daya.

Upacara adat Seumuleng Raja Daya adalah tradisi turun temurun yang dijaga oleh para keturunan raja dan warganya, berlangsung hingga kini. Keturunan Raja dihiasi dan diberi singgasana. Upacara itu berlangsung di Makam Raya Daya dan diikuti oleh ribuan warga Lamno yang datang dari berbagai penjuru.

Mata Biru Entah Kemana (1)

Oleh Adi Warsidi
[Liputan 10 tahun tsunami Aceh, Majalah Tempo Desember 2014]


Matahari tepat di atas kepala, saat kami tiba di ujung jalan Desa Gle Njong, Kecamatan Jaya atau kerap disebut Lamno. Di sebuah warung kopi, persis di sisi pantai yang telah berjejer batu-batu sebagai tanggul, kami singgah. Sepi, Jumat siang dan warga-warga sedang bersiap menuju Masjid.

Tak jauh dari warung, sebuah bukit tempat Raja-raya Daya bersemayam menghadap laut. Dari situ lah asal usul Kerajaan Daya bermula, menguasai wilayah Lamno dan menebarkan kemakmuran. Juga meninggalkan kisah tentang penjelajah bangsa Portugis, yang berbaur dengan warga dan menghasilkan keturunannya. Tsunami sepuluh tahun lalu, menorehkan kisah lain, mata biru entah kemana?

Monday, November 16, 2015

Pancu, The Lost City

Oleh : Adi Warsidi

Bekas kota kuno Indrapurwa tak terlihat lagi kasat mata dari tubir pantai Ujong Pancu. Tapi para pemancing dan nelayan mengetahuinya, ada bekas-bekas makam dan tapak-tapak bangunan lama.

Jika air surut, lokasi sekitar satu kilometer dari darat terlihat dangkal. Tak jauh dari sana, ada Pulau Tuan yang diselilingnya kaya terumbu karang. Konon dulunya, Ujung Pancu masih bersatu dengan pulau itu. Tiga bencana tsunami menggerusnya, memaksa pemukiman mendekat bukit.

Thursday, May 22, 2014

Gua Lhoong, Perekam Jejak Tsunami

Adi Warsidi

Terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai, mulut gua itu mengangga selebar satu kali gawang sepak bola, dengan tinggi mencapai 15 meter. Di sampingnya beberapa pohon dan semak belukar tumbuh. Sedikit ke dalam, semakin lebar.

Gua yang jarang dijamah mendadak terkenal, setelah para peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) menemukan jejak tsunami purba di dalamnya. Gua yang terletak sekitar 60 kilometer dari Banda Aceh, berada dalam kawasan Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong. Warga setempat menyebutnya dengan nama Gua Ek Gleuntie (kotoran kelelawar).

Hiphop dalam Balutan Aceh


Teks: Adi Warsidi | Foto: DOK HNS

Assalamualaikum peu haba/Kamo aneuk hiphop nanggro, soe nan gata/
Hana perle le that harta yang penteng beu na gaya/Aneuk gampong, aneuk ampon, sama saja//...

(Assalamuaikum apa kabar/Kami anak hiphop negeri, siapa nama anda/Tidak penting banyak harta, yang penting bergaya/Anak kampung, anak bangsawan, sama saja)

Kala Ahli Perang Beradu Pendekar Pecinan



Teks: Adi Warsidi | Foto: Nurdin

Delapan penari seudati meliuk-liuk maju mundur mengelilingi dua singa barongsai yang meloncat-loncat. Genderang pecinan berpadu syair Aceh.

Tari Seudati adalah tarian khas Aceh yang mengisahkan tentang kepahlawanan, yang dulunya kerap disajikan kepada prajurit untuk penyemangat perang. Sedangkan Barongsai adalah tarian legenda Cina, yang umumnya dibawakan ahli beladiri dalam berbagai agenda.

Thursday, May 2, 2013

GAM dan Kisah Bulan Bintang usai Damai



Oleh : Adi Warsidi

Polemik bendera bulan bintang masih terus terjadi di Aceh. Banyak yang pro dan tak sedikit yang menolak, juga abu-abu. Di kalangan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), perbedaan juga muncul. Bendera itu juga yang membuat mereka pecah setelah damai.

Begitu pandangan Munawar Liza Zainal, mantan Wakil Juru Bicara GAM yang ikut langsung dalam perundingan di Helsinki, sebagai juru runding. Dia bukan pengurus Partai Aceh (PA), bahkan kemudian dianggap berseberangan. “Kisah bendera itu panjang,” ujarnya, Rabu 10 April 2013.

Wednesday, February 27, 2013

DALAM PELUKAN LAUT SABANG

oleh : Adi Warsidi

Nakhoda paruh baya itu berdiri di belakang kemudi ‘boat kaca’ yang melaju di atas perairan iboih, Sabang. Kakinya menggerakan tuas kemudi, tangannya memegang tali yang bergantung seperti ular mengait atap, kadang berpindah pada tangkai kotak kaca di depannya. Boat perlahan meninggalkan pantai Iboih, nyaris tanpa goyang.

Hanafiah, tubuhnya nyaris tanpa lemak dengan otot-otot. Kulitnya hitam tak legam. Saban hari perpapar terik matahari dan air laut. Angin Timur berhembus, membuat rambutnya tersibak awut-awutan, sama seperti pepohonan yang menari di pantai sana. Panas menyamarkan pandangan bungalow-bugalow yang tersusun berjejer di Iboih.

Sunday, November 18, 2012

Membangkitkan Syair Sufi Lewat Tari

Adi Warsidi

TEMPO.CO, Banda Aceh – Usai lakon menepuk dada dan paha, delapan penari itu serentak berdiri membentuk lingkaran. Tangan saling mengait, kaki disentakkan ke depan, ke belakang, setengah meloncat.

Syair sufi dikumandangkan serentak, “Allahu.... Allah rabbani, malaikat rabbani. Beingat-ingat Allahu, taubat bak Allah, ta taubat beusah, neubuka Allahu pinto taubat. (Allahu.... Allah rabbani, malaikat rabbani. Ingat-ingatlah Allahu, bertaubat pada Allah, kita taubat yang sah, bukalah Allah pintu taubat).”

Thursday, November 8, 2012

Membangkitkan Tradisi Raja Daya


Oleh: Adi Warsidi

Telah ada sejak ratusan tahun lalu, tradisi Negeri Daya terus berkembang turun-temurun di kalangan warga penghuni pertapakan kerajaan itu. Saban tahun setelah Idul Adha, para keturunan raja dihias dan diberi singgasana lewat upacara adat bernama Seumuleng, membangkitkan kembali semangat para leluhur yang bersemayam di komplek makam para Sultan. Ahad 28 Oktober 2012, Tempo diundang untuk melihat langsung prosesi itu, di alun-alun Astaka Diraja, Pantai Kuala Daya, Lamno, Aceh Jaya.

Seribuan orang tumpah ke alun-alun Astaka Diraja. Diapit bukit dan pantai, sebelah kanan pintu masuk puluhan tenda pasar dadakan terpacak pada tanah berpasir, menjual aneka makanan dan minuman. Di kirinya, riuh para pengunjung beriringan dengan jerit anak-anak yang bermain air pada teluk kecil selaksa kolam, dipisahkan dengan laut oleh dua tebing bebatuan seperti pintu gerbang.

Tuesday, November 6, 2012

Ritual Air Suci dan Para Raja Daya


Oleh: Adi Warsidi

TEMPO.CO, Banda Aceh – Pantai Kuala Daya benderang pagi itu. Langit biru memantulkan cahaya ke lautnya yang indah dengan satu pulau kecil jelas terlihat, tanpa penghuni. Air laut berjingkrak mengempas pantai kuala, di sisi lain ombaknya dipecahkan tanggul-tanggul batu. Di atas pantai, bukit yang hampir tandus menebarkan magis penarik orang-orang segenap penjuru.

Bukan pantainya yang membuat daya tarik, hingga seribuan warga tumpah ke kasawan Kuala Daya, Lammo, Aceh Jaya. Tapi bukitnya, yang menyimpan jasad para Raja Daya, yang pernah berdaulat di kawasan itu, ratusan tahun lalu. Ahad 28 Oktober 2012 lalu, Tempo menelusurinya, tepat saat tradisi Seumuleng (menyuapi) Raja Daya diperingati. Sebuah upacara adat yang dijaga turun-temurun oleh anak-anak Negeri Daya.

Satu persatu warga turun naik 99 anak tangga yang dibuat melingkar menghindari sudut tanjakan. Di bawah tangga, sebuah pamplet beton menyapa dengan tulisan “Komplek Makam Sulthan Alaidin Riayat Syah” ditulis dengan dua huruf, arab dan latin.

Di atas bukit, komplek makam dipagari. Di dalamnya ada bangunan utama yang berisi 10 makam raja dan keluarganya yang pernah memerintah Kerajaan Daya pada kurun abad ke 15 Masehi. Di sisinya, sebuah bangunan kecil tempat guci peninggalan raja dan dua balai peristirahatan.

Ritual ziarah makam dimulai dengan membasuh kepala memakai air yang dianggap suci. Warga antre mendapatkan air itu, dua petugas silih berganti menuangkan dengan gayung dari tempurung kelapa yang telah diberikan pegangan. Air itu berasal dari sebuah guci peninggalan Negeri Daya, yang dialirkan memakai pompa dari sumber air di sela-sela batu bukit.

Penjaga Makam, Abidin (60 tahun) mengisahkan, dulunya guci itu berada di sebelah kanan makam para raja. Konon dulu, airnya terisi sendiri ke dalam guci pada sumber seperti air terjun kecil di bagian atas bukit, tak pernah kering. Pada saat pemugaran tempat keramat itu, guci dipindahkan ke sebelah kiri makam, dalam bangunan kecil yang diberi atap. Bagian bawah guci berwarna hitam ditanam pada lantai semen.

“Air yang diambil dalam guci dipercaya dapat menenteramkan hati dan mengobati berbagai penyakit,” kata Abidin. Dia masih percaya, guci itu dulunya didoakan oleh Sultan Salatin Riayat Syah, pendiri Negeri Daya.

Tugas menjaga makam bagi Abidin adalah amanah dari moyangnya. Makam dijaga turun temurun oleh keturunan mereka sejak dulu. Dia mulai menjaga makam setelah Ibrahim, abangnya meninggal pada tahun 2004. “Sebelumnya orang tua kami, Teungku Ahmad yang menjaga makam ini.”

Usai mencuci muka, sebagian pengunjung mengambil wudhu dan melanjutkan ritual di dalam bangunan makam. Ada yang shalat sunat dan sebagian berdoa dan melafalkan ayat-ayat suci. Tak lupa sebagian melapas nazar, bersedekah untuk kemakmuran makam.

Seorang ibu tiba-tiba menghampiri Abidin dan memberikan sejumlah uang. “Ini sedekah dari saya dan anak saya, semoga doa saya dan anak saya diterima Allah,” ujarnya.

Tanpa ditanya, si Ibu bercerita tentang doa dan harapannya agar menantunya kembali ke rumah, setelah pergi sekian hari akibat cek-cok keluarga. “Adik dengar sendiri kan? Warga masih sangat percaya tempat ini keramat dan suci,” kata Abdidin.

Tak hanya saat tradisi Seumuleng Raja Daya, makam itu ramai dikunjungi. Penuturan penjaga makam, pada akhir pekan, ratusan pengunjung juga kerap ke sana. Menjalankan ritual yang dipercaya turun-temurun.

Jamal misalnya, datang khusus dari Banda Aceh membawa istri dan anaknya menjalani ritual makam. “Kami sering ke kemari bang, tempat ini masih kami anggap suci dan keramat,” ujarnya.

Ramai dikunjungi, makam itu terjaga bersih diurus oleh para warga sana. Biaya mengurus dari sumbangan pengunjung. “Menjaga dan mengurus makam adalah menjalankan amanah dan kebanggaan bagi kami,” kata Teuku Zaini, salah satu keturunan Raja Daya.

Terletak di atas bukit, makam itu tak terjangkau lidah tsunami saat menghumbalang Aceh 26 Desember 2004 silam. Padahal, tsunami sempat menenggelamkan Kemukiman Kuala Daya yang terdiri dari dua desa, meninggalkan ribuan korban.

Dari Banda Aceh, makam Raja-raja Negeri Daya berjarak sekitar 81 kilometer, persisnya di Pantai Kuala Daya, Lamno, Aceh Jaya. Lokasi makam terpisah dari pemukiman, dan belum teraliri listrik negara. Kebutuhan arus, penjaga makam menggunakan mesin genset.

Dengan segala keterbatasan, tradisi adat Kerajaan Daya dan ritual makam masih hidup dan terjaga dengan baik. ”Kami menjaga amanah para leluhur dan selanjutkan menurunkan kepada penerus kami,” tutur Abidin. *** [1 November 2012 | tempo.co/travel]

Tuesday, July 17, 2012

Rafly; Perawat Musik Etnik Aceh


ADI WARSIDI

Ratusan pengunjung memadati panggung di pelataran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu malam, 19 Juni pekan lalu. Di puncak peringatan israk mirak, Rafli Kande tampil memukau, menghibur warga sambil menunggu ceramah agama.

//… Puleh darah, gapah utak, ie ngen minyek, saya ya Allah...// [sembuh darah, lemak otak, air dan minyak, saya ya karena Allah].

Begitulah satu bait syair lagu Puleh yang didendangkan Rafly. Berkisah tentang datangnya kesembuhan dari penyakit adalah karena kuasa Allah, lagu itu diiringi penyanjungan dan syair-syair tauhid lainnya, seperti lazim dari karya-karya Rafli.

Alat musik yang ditampilkan hanya rapai yang ditabuh anak-anak grup Kande-nya. Irama tak kalah dengan hentakan drum maupun gitar. Suara Rafli khas melengking tinggi, sesekali tangannya bergerak ikuti irama, memukau pendengar. “Di masjid ini, kami tak boleh memainkan alat musik lain, hanya rapai yang diperbolehkan,” kata Rafly kepada Tempo.

Rafly dengan Grup Kande adalah idola di Aceh. Kemampuannya menyanyi tak diragukan lagi, di mana dia hadir suasana selalu ramai. Dia mampu menghibur warga dengan inovasinya bernyanyi dalam musik etnik Aceh, yang digabung dengan musik modern.

Inilah yang menjadi daya tariknya, menggabungkan alat musik tradisional seperti rapai, seurune kale, genderang, tambo dan berugu berpadu dengan alat modern semisal gitar, bass dan drum. Kekuatan lagunya menjadi penting, agar satu alat tak menjadi sekadar pelengkap bagi alat musik lain. “Ini selalu membutuhkan diskusi personel dan menjadi bagian sulit,” kata Rafly.

Tempo yang dibuatpun berkarakter etnik yang akrab dengan masyarakat. Bagi Rafli, Grup Kande adalah keabsahan musik etnik modern, lirik, kostum dan Bahasa Aceh yang menjadi sebuah kesatuan. Sekilas musiknya bergaya R&B, genre musik populer yang menggabungkan jazz, gospel dan blues. Tentu saja tanpa meninggalkan karakter musik Aceh.

Syair lagu Rafly adalah syiar-syiar agama dan kritik terhadap kondisi kekinian yang terjadidi Aceh. Pesan-pesan dalam lagunya selalu akrab dengan masyarakat. Saat konflik Aceh dulunya, dia kerap menyuarakan perdamaian dan kondisi sosial kemasyarakatan. Misalnya lagu ‘Anak Yatim’ yang berkisah tentang anak kehilangan ayahnya semasa perang.

Karenanya Rafly dan Kande diterima baik masyarakat Aceh. Dia mengaku hidup dari musik dan berkecukupan. Kerap menjalani manggung di mana-mana, kadang solo dan juga bersama Grup Kande. Di Aceh, di mana pun Rafly Kande konser, penonton tak kurang dari 20.000-an. Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia kerap disambanginya. “Kalau ke luar negeri, saya pernah bernyanyi di Scotlandia, London (Inggris) dan juga Malaysia,” kataRafly.

Rafli mengaku lebih sering tampil solo daripada bersama Grup Kande. Maklum, mendatangkan grup yang berbilang besar dengan peralatan lengkap sampai 60.000 watt, membutuhkan energi yang besar pula.

Albumnya laku keras di Aceh. Ratusan ribu CD terjual dalam setiap album yang dikeluarkan. Hanya saja, albumnya masih belum banyak, Rafli dengan Grup Kande-nya baru mengeluarkan dua album, sedang album solonya sudah enam album.

Bakat menyanyi lelaki kelahiran Samadua, Aceh Selatan, tahun 1967 itu turun dari ayahnya, Mohammad Isa, seniman grup Meudike (melantunkan nasehat-nasehat agama). Rafli akrab dengan seni tradisi itu. Saat duduk di bangku sekolah, dia menyenangi lagu-lagu berkarakter keras seperti rock dan mencoba belajar alah musik modern. Di sekolah, kegiatan keseniannya menjadi hobby utama.

Tamat kuliah, Rafly mengabdi sebegai guru di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Aceh Barat pada tahun 1994, kegiatannya bermain musiknya sempat berhenti. Tahun 1997, dia mulai bernyanyi solo dengan musik-musik etnik yang digabungkan dengan irama modern.

Pada tahun 2000, dia pindah tugas ke MIN di Banda Aceh, dan mulai berpikir untuk membentuk sebuah grup musik. “Lagu-lagu Aceh saat itu banyak ciplakan dari musik dangdut dan remix,” katanya.

Grup dibentuk bernama Kande dengan semangat menciptakan sebuah musik etnic Aceh yang dinamis kekinian dan tak ketinggalan zaman. “Artinya enak didengar oleh orang tua dan juga yang muda,” ujarnya.

Dikumpulkanlah lima personel pada awalnya, mereka manggung di mana-mana dan masih kesulitan mencari sponsor. Seiring waktu, mereka terus dikenal dan kemudian terus berkembang. Kini Grup Kande punya delapan orang grup inti dan full tim ada 14 orang. Mereka ahli bermain musik tradisional dan juga modern.

Diakui, jenis musik yang dibawakan mereka dengan gabungan tradisional dan modern juga pernah dipikirkan oleh pemusik lainnya, misalnya Grup Musik Nyawoeng. Tetapi secara aplikasi, Kande disebut Rafly lebih gigih sehingga tetap eksis sampai sekarang. “Yang bagusnya diterima oleh masyarakat Aceh.”

Membina grup, dia mengaku mengedepankan kekeluargaan, sehingga anak-anak merasa nyaman dan personel tetap betah di Kande. Menurutnya, kekuatan mereka adalah pada personel yang selalu rindu untuk tampil bersama di konser-konser. Setiap kesulitan dalam musik didiskusikan bersama.

Zulkifli, personel Grup Kande mengakuinya. “Kami seperti sebuah keluarga,” ujarnya. Menurut Zul yang ahli alat musik tradisional, setiap kesulitan yang mereka hadapi dipecahkan bersama.

Dia mengakui bermain musik etnik dengan gabungan musik modern punya banyak kendala. Apalagi karakter musik Aceh tak punya pakem untuk bermain modern. Kande kemudian sebisa mungkin menggabungkan alat-alat musik semaksimal mungkin sehingga tak berkesan seperti tempelan. “Harus padu dan menjadi sebuah kesatuan, satu alat musik tidak membunuh alat yang lain,” ujar Zulkifli.

Budayawan Aceh, Azhari Aiyub mengatakan karakter musik Rafly Kande bisa diterima oleh seluruh rakyat Aceh, karena dapat mengembalikan kerinduaan rakyat Aceh terhadap musik rakyat yang telah lama hilang. “Saat mendengar musik Rafly, pendengaran rakyat Aceh langsung merespon. Keseluruhan musik, mengembalikan sesuatu yang hilang selama ini,” ujarnya.

Menurutnya, karakter musik etniknya telah lama hadir dulu, lewat Seudati, Meudikee dan irama tari-tarian Aceh yang dipadukan dengan gerak. “Rafly berhasil mengambil posisi itu dan membuat lagu diiringi gabungan musik tradisional dan modern,” ujarnya.

Azhari mengakui sebelum Rafly muncul, ada musisi lain yang juga memulai karakter tersebut sepertu Grup Nyawoeng. Selanjutnya juga ada beberapa musisi yang meniru. Tapi kemudian penilaian Azhari, Rafly yangmampu bertahan. “Ini bukan yang baru, tapi merupakan bagian dari kekayanan dan khasanah musik rakyat, yang diberikan inovasi,” ujarnya.

Dalam teksnya, Rafly juga banyak mengadopsi nasehat-nasehat dalam cerita rakyat. Teks itu kemudian sangat berarti karena dinyanyikan dengan bagus. Tantangannya kemudian bagi Rafly dan Grup Kande adalah pada menciptakan satu jenis musik rakyat yang baru, yang dapat juga digandrungi oleh generasi ke depan yang terus tumbuh dan punya selera yang berbeda.

Pemerintah mendukung apa yang dilakukan Rafly. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi menilai Rafly telah ikut melakukan kampanye-kampanye terhadap Aceh dengan musiknya. “Ketika dia tampil kemana-mana baik dalam dan luar negeri.”

Pengakuannya, Rafly sering diajak beberapa even nasional dan internasional seperti pagelaran Internasional Musik Sufi pada tahun 2011 lalu. “Kita juga ajak dalam even-even dari pemerintah pusat untuk diselenggarakan di Aceh,” kata Reza.

Musik rafly diterima masyarakat luas di Aceh karena akrab dengan kondisi masyarakatnya. “Saya suka musik Rafly, mendengarnya tak pernah bosan,” kata Aisyah, warga Banda Aceh.

//… Oh kalaye tho krang seulanga nyan, gadeh mangat beu…// (saat layu kering, bunga seulanga itu hilang harumnya), Aisyah mencoba salah satu lirik lagu Rafly yang disukainya. ***

Wednesday, May 23, 2012

Inong Balee di Lahan Kakao

Adi Warsidi


Lahan kurang dari satu hektar itu bersih dari pohon besar. Pisang-pisang tumbuh berjejer setinggi dua meter melindungi tanaman kakao muda di bawahnya. Rumput berbagi ruang di sela-sela.

“Ini lahan saya, telah lima bulan ditanami bibit kakao program bantuan,” ujar Alawiyah, 37 tahun, sambil menunjuk kiri-kanan memberitahukan batas kebunnya, saat kami berkunjung awal Mei 2012 lalu.

Kulitnya sawo matang, sama dengan wajahnya yang tanpa polesan make-up. Alawiyah bukan perempuan biasa, dia adalah inong balee alias janda kombatan. Suaminya yang gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), meninggal pada 2004 saat saat konflik masih mendera Aceh.

Hidup menjanda, dia dan dua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar menumpang dengan orang tuanya di Desa Kumbang, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie. Mereka menempati rumah panggung jauh dari kesan mewah.

Alawiyah mengaku minim mendapatkan bantuan. Dia menggantungkan hidupnya dari sepetak sawah dan kebun kakao milik orang tuanya. Bukan miliknya sendiri. Sampai kemudian dia terpilih untuk menjadi penerima manfaat Program Kakao Aceh yang difasilitasi oleh ActionAid Australia (AAA) dan Yayasan Keumang didanai Multi Donor Fund (MDF).

Perempuan itu termasuk dalam kategori petani lahan baru. Lahan miliknya yang terletak di kaki bukit adalah bekas hutan yang kemudian digarap masyarakat sekitar. Dia kebagian jatah sekitar satu hektar, setelah beberapa kawan almarhum suaminya memfasilitasi dan mengurus izin garap.

Lahan sempat terlantar lama, hanya diolah sebagiannya saja dengan tanaman cabe dan sayur-mayur lainnya. Program Kakao Aceh yang digulirkan akhir 2010 silam, membantu Alawiyah bersama puluhan petani lain di sana.

Sejak program berjalan, Alawiyah aktif mengikuti pelatihan-pelatihan. “Saya beberapa kali ikut pelatihan seperti pemangkasan dan teknik perawatan kakao lainnya,” ujarnya.

Bibit kakao untuk lahan baru diterimanya pada akhir 2011 lalu. Bibit unggul itu kemudian ditanami di lahan yang telah dibersihkan dan dipagari. “Kondisinya sekarang yang seperti ini, sudah baik,” ujarnya menunjuk.

Di lahan itu, sebagian besar bibit kakao tumbuh sekitar 60 sentimeter. Sebagian lagi masih terlihat kerdil karena musim kemarau yang melanda Aceh dan khususnya wilayah itu dalam dua bulan terakhir. “Program ini sangat membantu kami yang miskin,” ujarnya.

Alawiyah mengaku menaruh harapan besar pada tanaman kakao tersebut untuk biaya hidupnya dan anak-anak ke depan. Karenanya, dia selalu rajin membersihkannya dan merawat kakao muda. Saban hari diakuinya, kebun selalu dijenguk. “Harapan kami, bantuan seperti ini dapat terus ada untuk membantu kami.”

Tak hanya Alawiyah, inong balee yang dibantu bibit untuk lahan baru. Field Worker Yayasan Keumang, Hasbi mengatakan ada enam lainnya yang punya nasib sama. “Mereka memang saya pilih dulunya untuk mendapat bantuan dalam program ini,” ujarnya.

Hasbi merinci, di Desa Kumbang ada empat janda kombatan/anak (alm) kombatan yang dibantu, lainnya ada tiga di desa Blang Cut. Kedua desa itu berdekatan, areal lahan mereka pun berada dalam lokasi tak berjauhan.

Total keseluruhan di Kecamatan Mila, ada 20 orang yang mendapat bantuan bibit untuk lahan baru. Mereka mendapatkan bibit untuk ditanami pada lahan masing-masing sebesar setengah hektar lebih. “Yang laki-laki semuanya bekas kombatan GAM, yang perempuan kalau tak janda yang anak GAM yang sudah meninggal. Tapi semua mereka miskin,” kata Hasbi yang juga mantan petempur GAM.

Julian Ramli, 32 tahun, penerima manfaat lainnya di sana juga mantan pasukan GAM. Bekas anak buah Panglima Reubee ini mengakui Progran Kakao Aceh sangat membantu dirinya. “Saya baru kali ini pengalaman menanam kakao, mudah-mudahan akan berhasil,” ujarnya.

Pascadamai 2005, Julian nyaris tak punya penghasilan hidup. Dia bekerja membuat perabotan dengan penghasilan minim untuk menghidupi istri dan satu anaknya. Harapan kemudian bertaut menjadi petani kakao dengan bantuan awal, bibit kakao dari program kakao Aceh. “Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat awal bagi saya untuk terus bangkit bertani kakao,” ujarnya.

Program bantuan bibit lahan baru memang diperuntukan untuk janda, petani miskin dan mantan kombatan. Direktur Yayasan Keumang, Yusri Yusuf mengatakan bibit unggul kakao untuk lahan baru adalah pilot project guna meningkatkan produksi kakao Aceh ke depan. Petani yang dibidik untuk lahan baru berjumlah 564 orang dengan jumlah bibit sekitar 262.500 untuk 300 hektar lahan tanam. Bibit dibuat dengan sistem cloning, dari tumbuhan induk yang bagus dan juga didatangkan dari Sulawesi. []

Monday, April 23, 2012

Mengingat Tsunami di Kapal Apung


Satu persatu pengunjung memasuki pelataran objek wisata tsunami kapal apung, bergantian dengan orang lainnya yang beranjak pergi. Di pintu masuk, Gibran mengawasi dan kerap memanggil para tamu, Sabtu sore 14 April 2012 lalu.

“Jangan lupa diisi buku tamunya, nama dan dari mana,” ujar Gibran, pemandu di area itu. Wisatawan pun mengisi dan memberikan kesannya.

Menurutnya, wisata kapal apung itu baru dibuka kembali untuk umum setelah dipugar dan dibuat pagar sejak 4 April 2012. Rehab lokasi itu dilakukan mulai Juli 2011 silam dengan dana dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Peresmian saat pembukaan kembali dilakukan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Raden Sukhyar, didampingi Pj Walikota Banda Aceh T Saifuddin. “Kami berharap monumen ini dapat dijaga dan dikelola dengan baik. Kami juga sangat berterima kasih kepada Kementerian ESDM atas dukungan dan bantuannya. Semoga monumen ini bisa menjadi pusat edukasi tsunami dan tujuan wisata di kota ini,” kata Saifuddin saat itu.

Kata Gibran, sejak dibuka pengunjung terus bertambah. “Saat ini ada seratus orang pengunjung perhari, kalau hari Sabtu dan Minggu bisa lebih lagi,” ujarnya kepada Tempo.

Di sisi kiri pintu masuk, sebuah monumen pengingat tsunami berdiri. Di sana bertulis nama-nama korban tsunami dari Desa Punge Blang Cut, tempat kapal apung itu bertengger. Kapal itu terdampar di sana saat tsunami menggada Aceh, 26 Desember 2004 silam.

Gibran yang warga setempat menyebut, kapal itu sebagai bukti kedasyatan tsunami. Saat tsunami datang, kapal yang difungsikan sebagai pembangkit listrik di lepas pantai, digiring ombak raya ke tengah pemukiman warga. Alhasil, berlabuhlah kapal berbobot mati 2.600 ton dengan panjang 63 meter ke darat. Bergeser sekitar 5 kilometer dari tempat seharusnya kapal itu berada.

Kini, kapal itu telah berubah fungsi. Oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, kapal dimasukan sebagai salah satu objek wisata tsunami di ibukota provinsi. Para pengunjung pun ramai datang, melihat dekat sisa tsunami dan membayangkan besarnya bencana yang datang enam tahun lima bulan lalu. “Pengelolaan dilakukan oleh kementrian ESDM dan Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Gibran.

Menjaga kapal dan objek wisata itu dilakukan oleh pemuda setempat. “Untuk sekarang tidak dipungut biaya apapun.”

Berada di atas kapal, sebuah pemandangan tersaji. Pengunjung akan tahu, berapa jauh kapal itu terseret arus tsunami, karena dari geladak setinggi 20 meter lebih akan terlihat laut dan dermaga Ulee Lheu. Sebagian kota juga terpampang dari atas sana.

Mesin pembangkit listrik tak ada lagi di dalam kapal, telah dipindahkan sejak akhir 2010 silam. Saat malam, lampu-lampu dihidupkan dengan memakai arus listrik, sama seperti fasilitas penerangan ke rumah-rumah warga.

Para pengunjung tak meninggalkan kesempatan untuk berpose pada kapal apung itu. “Saya baru melihat sendiri bukti dahsyatnya tsunami Aceh. Dulunya saya hanya melihat foto-foto,” kata Desi, yang mengaku berasal dari Sumatera Selatan.

Tempat wisata itu dibuka saban hari sejak pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 21.00 WIB. Malam akhir pekan, jadwalnya bisa bergeser lebih larut. Ingin ke Banda Aceh, jangan lupa singgah ke kapal apung, untuk sekadar mengingat tsunami. [tempo.co/travel, April 2012]

Adi Warsidi

Saturday, April 21, 2012

Data dan Fakta Pilkada Aceh

Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf Resmi memenangkan Pilkada Aceh untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2012 – 2017.

Berdasarkan hasil perhitungan resmi dari Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dalam rapat pleno di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa 17 April 2012, mereka mendulang suara lebih dari setengah suara pemilih sah.

Berikut data dan fakta Pilkada Aceh yang digelar 9 April 2012. Perolehan suara calon (berdasarkan nomor urut)
1. Tgk Ahmad Tajuddin – Teuku Suriansyah = 79.330 suara (3,33 persen)
2. Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan = 694.515 suara (29,18 persen)
3. Darni M Daud – Ahmad Fauzi = 96.767 suara (4,07 persen)
4. Muhammad Nazar – Nova Iriansyah = 182.079 suara (7,65 persen)
5. Zaini Abdullah – Muzakir Manaf = 1.327.695 suara (55,77)

Total suara suara sah Pilkada Aceh untuk pemilihan gubernur adalah 2.380.386 orang.
sementara total jumlah pemilih 2.457.196 orang. Sebanyak 76.810 surat suara dinyatakan rusak.
Daftar pemilih tetap yang ditetapkan KIP Aceh sebelumnya adalah 3.244.729, dengan demikian sebanyak 787.533 orang tidak memilih di Aceh alias Golput. ***

Adi Warsidi

Para Penyokong Kursi Darussalam


KARPET merah bermotif Turki masih terhampar di ruang tamu Mess Wali Nanggroe, Jalan Danubroto, Banda Aceh. Botol-botol air mineral berserak. Kenduri baru selesai dilaksanakan, mengundang anak-anak yatim. Doa didaraskan agar tuan rumah, Zaini Abdullah, bisa “menjalankan amanah”.

Berpasangan dengan Muzakkir Manaf, Zaini bakal memikul “amanah” baru. Hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei memperkirakan mantan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka itu akan menjadi Gubernur Aceh untuk lima tahun ke depan. Pasangan ini besar kemungkinan memenangi pemilihan Senin pekan lalu dalam satu putaran.

Pada usia 72 tahun, Zaini berusaha tampil kasual ketika menemui Tempo, Kamis pekan lalu. Ia mengenakan kemeja dan celana kain. Tapi, pada saat pemotretan, ia memakai jas. Di kakinya, ia tetap mengenakan sepatu Crocs. “Kami akan memangkas birokrasi, dan menekan korupsi,” ia berjanji.

Toh, usia tak bisa disembunyikan. Bicaranya sering terdengar bergetar. Beberapa kali, Muzakir Abdul Hamid, ajudan yang menemani wawancara, menegaskan maksud ucapan bosnya. Ia juga sempat berpindah kursi, dari sofa yang disebutnya “terlalu empuk” dan ia tak bisa duduk di situ. Sempat bergerilya di gunung, lalu lari ke Swedia, Zaini bakal memimpin birokrasi. Ia didampingi Muzakkir, yang juga bekas gerilyawan sebagai Panglima Militer Gerakan Aceh Merdeka.

Pencalonan keduanya tak lancar sejak awal, terutama karena perselisihan mereka dengan Irwandi Yusuf, juga bekas anggota GAM, yang memimpin Aceh pada 2006-2011. Perundingan, lobi-lobi, juga pertemuan dengan tokoh-tokoh Jakarta harus dilakukan, termasuk pertemuan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, menjelang akhir tahun lalu.
***

KETEGANGAN meruap di Restoran Sumire, lantai empat Hotel Grand Hyatt. Pentolan Partai Aceh, seperti Malik Mahmud, Zaini Abdullah, dan Muzakkir Manaf, berhadapan dengan tim Kementerian Dalam Negeri yang dipimpin Djohermansyah Djohan, Direktur Jenderal Otonomi Daerah. Pertemuan pada 21 November 2011 malam itu membahas kesepakatan soal pemilihan Gubernur Aceh. Ini pertemuan kesekian kali, dan sesungguhnya sudah ada tiga butir kesepakatan yang diteken Djohan dan Muzakkir di Restoran Shima, Hotel Aryaduta, sebulan sebelumnya.

Kesepakatan mentah ketika Muzakkir tiba-tiba menelepon Djohan. Ia balik menolak butir ketiga kesepakatan yang membuka pintu bagi calon independen pada pemilihan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. “Padahal kami sebelumnya telah senang karena pemilihan bisa segera digelar,” kata Djohan kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

Kepada Djohan, Muzakkir beralasan, Undang-Undang Pemerintahan Aceh hanya sekali membolehkan calon independen, yakni pada 2006, ketika Partai Aceh belum terbentuk. Irwandi Yusuf, yang menggunakan jalur ini, memenangi pemilihan. Namun Mahkamah Konstitusi kemudian merevisi Pasal 256 sehingga calon gubernur yang tak diusung partai boleh mendaftar.

Partai Aceh menuding pencabutan pasal itu sebagai “pengkhianatan Jakarta” terhadap Undang-Undang Pemerintahan Aceh dan kesepakatan damai Helsinki 2005. Mereka lalu mengungkit “pengingkaran Jakarta” terhadap Ikrar Lamteh, yang memantik perlawanan Daud Beureueh, pada 1958. Djohan berusaha melunakkan sikap petinggi Partai Aceh. Ia menjelaskan bahwa pencabutan itu keputusan lembaga yudikatif yang tak bisa dicampuri kekuasaan eksekutif. Usahanya gagal. Pertemuan di Hotel Hyatt buntu karena kedua pihak sama-sama bertahan. “Akhirnya, pemerintah menyerahkannya ke Komisi Independen Pemilihan Aceh,” kata Djohan.

Kebuntuan itu rawan karena Komisi sudah membuka pendaftaran calon independen. Jika ini tetap dilanjutkan, Partai Aceh menolak ikut pemilihan. Akibatnya, situasi keamanan dan politik di Aceh bisa goyah lagi. Partai lokal wadah bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka ini menguasai hampir separuh kursi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. “Order Presiden cuma satu: bikin Aceh aman,” ujar Djohan. Tak mau situasi jadi tak menentu, Djohan mengajak Malik, Zaini, dan Muzakkir berunding lagi. Untuk meyakinkan mereka, Djohan meminta bantuan mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Di kalangan tokoh Partai Aceh, Jusuf Kalla cukup dihormati. Kalla adalah perintis dan tokoh di balik kesepakatan damai Helsinki. Hingga kini, tokoh-tokoh Aceh terus menjalin kontak dengannya. “Saya menelepon Malik agar mau berunding lagi,” kata Kalla kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Sebagai Wali Nanggroe, Malik disegani di kalangan mantan gerilyawan GAM, terutama setelah Hasan di Tiro meninggal pada 2010. Malik melunak oleh bujukan Kalla. Mereka sepakat bertemu lagi dengan tim Djohan di Hotel Sahid pada 12 Desember 2011. Waktu itu, jadwal pemilihan kepala daerah sudah diundurkan satu bulan menjadi 24 Desember. Jusuf Kalla, dengan bantuan orang-orang dekatnya, termasuk mantan Menteri Hukum Hamid Awaludin, juga mencoba menjelaskan asal-usul aturan calon independen kepada Mahkamah Konstitusi. Dalam pertemuan berikutnya dengan tim Djohermansyah, tim Malik bersedia berkompromi.

Mereka menerima dua pasal penundaan jadwal pemilihan sampai urusan pemilihan ini disahkan dalam qanun. Mereka juga setuju ada penunjukan penjabat Gubernur Aceh setelah masa jabatan Irwandi Yusuf berakhir pada 8 Februari 2012. Tanpa diduga, mereka juga menerima pasal tiga soal calon independen. Tapi mereka meminta catatan tambahan, yang menjamin tak ada lagi perubahan isi Undang-Undang Pemerintah Aceh tanpa konsultasi dengan DPR Aceh. Muzakkir dan Djohan meneken nota kesepakatan butir keempat ditulis tangan.

Kengototan Partai Aceh soal calon independen ini merupakan ekor perseteruan mereka dengan Irwandi Yusuf sejak awal pemerintahannya pada 2006. “Selama lima tahun memimpin Aceh, dia tak pernah sowan kepada kami, menjalankan program sesuka hati. Dia durhaka kepada kami,” kata Zaini Abdullah.

Dengan pemilihan diundurkan hingga masa jabatannya berakhir, Irwandi tak lagi bisa memakai fasilitas pejabat untuk berkampanye. Ini merupakan kemenangan Zaini dan Muzakkir atas Irwandi. Kemenangan sesungguhnya diperoleh Senin pekan lalu, pada hari pemilihan. Berdasarkan hitung cepat perolehan suara, Zaini-Muzakkir diperkirakan menang dalam satu putaran. Mereka meraih 55 persen suara dari tiga juta lebih pemilih.
***

PADA masa kampanye, tiga pensiunan jenderal mendukung Partai Aceh: bekas Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda Mayor Jenderal Purnawirawan Soenarko dan Mayor Jenderal Purnawirawan Djali Yusuf serta bekas Kepala Staf Kodam Iskandar Muda Brigadir Jenderal Purnawirawan M. Yahya. Ketiganya bahkan menjadi juru kampanye.

Menurut Zaini, tiga jenderal itu datang menyatakan bergabung dengan kubunya tahun lalu. Sejak deklarasi pencalonan Zaini-Muzakkir hingga kampanye selama Maret-April kemarin, ketiganya selalu duduk di barisan terdepan. “Saya kenal secara pribadi dengan mereka sejak zaman GAM,” kata Soenarko. Soenarko mengklaim membujuk Muzakkir mendaftar dalam pemilihan gubernur setelah Partai Aceh menolak ikut pemilihan. Padahal, saat masih aktif di TNI, Soenarko termasuk keras menentang GAM. “Sekarang saya mengerti mereka memberontak karena ingin Aceh maju,” ujarnya.


Irwandi Yusuf, lawan Zaini, menyebutkan Soenarko datang membawa kepentingan Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Soenarko adalah bekas bawahan Prabowo di Komando Pasukan Khusus. “Dia membawa misi Prabowo untuk pemilihan presiden 2014 dan bisnisnya di Aceh,” kata Irwandi.

Menurut Irwandi, Prabowo memiliki konsesi hutan tanaman industri yang mengelilingi Danau Lot Tawar sepanjang Kabupaten Bener Meriah hingga Aceh Tengah seluas 97.300 hektare. PT Tusam Hutani Lestari beroperasi sejak 1997, memasok kayu untuk PT Kiani Kertas Pulp & Paper. “Dia minta perpanjangan izin, tapi saya tolak,” katanya.

Soenarko tak menyangkal kedekatannya dengan Prabowo. Orang-orang dekatnya menyatakan Soenarko pernah diajak Prabowo bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas membicarakan pemilihan di Aceh ini. “Prabowo juga menyumbang (buat pasangan Zaini-Muzakkir),” kata Sofyan Dawood, bekas juru bicara GAM, yang menjadi anggota tim sukses Irwandi.

Djali Yusuf, bekas anggota staf khusus presiden, yang dimintai konfirmasi soal misi Soenarko, tak menyangkal atau membenarkan. “Pak Soenarko bukan anggota Gerindra, tapi kalau di 2014 dia mau masuk partai, itu hak dia,” katanya. Prabowo belum bisa dimintai komentar. Sejumlah orang dekatnya menolak pernyataannya dikutip, dengan alasan “bukan merupakan bagian pekerjaan”-nya. Kedua kubu juga berusaha menggandeng pengusaha Tomy Winata.

Tahun lalu, dua kali Irwandi menemui petinggi Grup Artha Graha itu untuk meminta bantuan dana kampanye. Keduanya akrab setelah Irwandi sebagai gubernur menuding Tomy membeli lima harimau Sumatera dari Aceh untuk hutan di Lampung pada 2008. Tomy, menurut Irwandi, berusaha mengontaknya setelah itu. Ia menolak dan meminta Tomy mengembalikan harimau ke Aceh. Tomy menolaknya. “Saya lawan,” kata Irwandi, lalu melanjutkan: “Dia (dituduh sebagai) mantan mafia, tapi saya mantan pemberontak. Derajatnya lebih tinggi, ha-ha-ha….”

Saat terserang stroke dan dirawat di Singapura, Irwandi mengatakan Tomy memberinya biaya pengobatan Rp 70 juta dan menyediakan apartemen. Sejak itu, mereka berteman. Jika ke Jakarta, Irwandi menginap di Hotel Borobudur milik perusahaan Tomy. Irwandi juga tak sungkan memakai pesawat Cassa milik Tomy untuk memantau kondisi Aceh. Ia sendiri kadang yang mengemudikannya karena pernah belajar menyetir pesawat ketika kuliah di Amerika Serikat. “Untuk pemilu ini, dua kali saya menagih dia di ruangannya di Artha Graha,” kata Irwandi. Tomy, kata Irwandi, hanya mengiyakan, tapi tak memenuhinya.

Sampai pemilihan berlangsung, ia menyatakan, tak sepeser pun Tomy mengeluarkan uang. Irwandi mengaku habis Rp 14 miliar untuk kampanye dan persiapan pemilu. Dari sakunya, ia mengeluarkan Rp 6 miliar. Sisanya pinjam sana-sini. “Sekarang pusing juga bagaimana membayarnya,” ujarnya.

Tak mengucurkan duit untuknya, Irwandi mendengar, Tomy malah bertemu dengan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf. Irwandi mengatakan tak paham terhadap alasan Tomy mendukung Zaini, kecuali dugaan taipan pemilik kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, ini berminat bisnis padi di Tangse, Pidie.

Muzakkir mengakui bertemu membahas dana kampanye dengan Tomy Winata pada November tahun lalu. Seusai pertemuan, kata dia, Tomy tak langsung mengeluarkan uang. “Baru pada saat Lebaran Haji, ajudannya memberi saya Rp 20 juta,” ujarnya. “Mungkin untuk ongkos atau apa saya tak tahu.” Hingga tulisan ini selesai, Tomy Winata tak merespons permintaan konfirmasi yang dikirimkan ke telepon selulernya.

Muzakkir mengatakan tak menerima sepeser pun dari Prabowo. “Tapi tak tahu kalau dia memberikannya ke yang lain,” katanya. Ia menyatakan hanya pernah sekali bertemu dengan Prabowo Subianto di Hotel Santika Bogor, Januari lalu. “Kami membicarakan pertanian di Aceh,” ujarnya. Soal sokongan dari banyak tokoh Jakarta, Zaini mengatakan, “Dukungan mereka tanpa konsensus. Mereka tak bertanya kami akan memberikan apa.”
***

[Majalah TEMPO, Edisi 16 – 22 April 2012]
[Bagja Hidayat, Kartika Candra, Angga Wijaya (Jakarta), Mustafa Silalahi, Adi Warsidi (Aceh)]