Showing posts with label Celoteh. Show all posts
Showing posts with label Celoteh. Show all posts

Friday, July 16, 2010

Menulis Sabang; Antara Bandar dan Wisata

Adi Warsidi

Menulis Sabang, saya teringat pada sejarah yang membentang di atasnya. Tentang keindahan, kejayaan dan pelabuhan alam. Kisah Sabang di Pulau Weh seakan tiada pernah luntur terusik zaman. Suka-duka mengisi lembar riwayatnya kini.



Dalam kisah dulu, Pulau Weh telah nama tertoreh. Ma-Huan pada awal abad ke-15, menulis setelah menjelajah dengan kapal induk dinasti Ming, bersama nakhoda Cheng Ho. Dia meriwayatkan ada sebuah kerajaan di ujung Sumatera yang disebut Nan-Po-li. Kerajaan itu terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga. Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus.

Di bagian timur teritori itu, terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan luas; jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan pegunungan tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau Wei atau Pulau Weh.

Digambarkan, pulau itu terletak sekitar sembilan mil laut di lepas pantai Timur Laut Aceh. Di sana terdapat pelabuhan alami yang bagus. Dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan bahasa Cina pulau itu juga disebut sebagai ’pulau Hat’, daerah yang banyak menghasilkan kayu gaharu.

Ma Huan menggambarkan kapal-kapal yang datang dari samudera di dekatnya banyak sianggah di sana dengan melihat pegunungan sebagai penunjuk arah. Kapal singgah untuk mengambil air tawar atau sekadar berisirahat menunggu ombak tak tinggi dan laut bersahabat. Masyarakatnya ramah, mereka mengumpulkan rumput-ruput laut dan pohon-pohon untuk kemudian menjualnya sebagai komoditas yang berharga. Juga karang-karang mati yang indah sebagai cendera mata.

Pulau Weh dengan Kota Sabang-nya menjadi terkenal terus dari cerita mulut ke mulut para pelaut. Pulau itu kemudian dikenal luas dengan pelabuhan alamnya dan air tawarnya yang mudah didapat. Kerajaan Aceh menjadikan tempat itu bebas, setiap kapal yang singgah tiada dipungut biaya.

Masa kerajaan Aceh, Sabang maju. Membuktikan bahwa ketika Iskandar Muda misalnya berkuasa, Aceh telah dapat ditumbahkan menjadi wilayah yang maju dengan Sumber Daya Manusia yang baik pula. Kedua sisi Selat Malaka tumbuh menjadi kawasan-kawasan perdagangan yang ramai lewat pelabuhan-pelabuhan laut yang yang punya peran penting memuluskan lada dan rempah-rempah terbawa sampai ke Eropa dan Amerika sana.

Pengelolaan laut menjadi prioritas. Pelabuhan Johor, Perak, Pahang, dan Kedah di semenanjung Malaysia dan Sabang serta Banda Aceh, Deli, dan Bintan adalah kawasan perdagangan bebas masa Iskandar Muda. Ia menempatkan para panglimanya untuk memerintah kawasan-kawasan strategis itu.

Sabang oleh pemerintah Belanda, sejak tahun 1881 mendirikan Kolen Station. Pada tahun 1887, lembaga Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas yang modern di Sabang pun dimulai pada 1895, dikenal dengan istilah Vrij Haven dan dikelola oleh Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij.

Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang. Pada tahun 1942, Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian pelabuhan terpaksa ditutup.

Masa kemerdekaan, kondisi sabang naik turun. Sabang pernah menjadi pusat Pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan UU No 10/1965 dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas.

Gagasan kemudian diwujudkan dengan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dan atas alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Sabang kemudian dimatikan berdasarkan UU No 10/1985. Kemudian pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Kota Sabang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan.

Tahun 2000, Sabang dirancang kembali sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid. Terbit Inpres Nomor 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Dan kemudian diterbitkannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Terasa hanya sesaat denyut pelabuhannya tercipta dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke Kawasan Sabang. Tetapi pada tahun 2003 aktifitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer.

Sabang kemudian tak pernah berdenyut lagi. Sepi saja sampai kini. Undang Undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang lahir setelah setahun Aceh bebas dari konflik, juga belum bisa menjamin pelabuhan itu maju pesat. Tak ada geliat yang berarti di sana kini, hanya ada beberapa hal yang ada di sana kini, mobil impor, gula Sabang.

Pemerintah pusat yang kemudian membentuk Badan Pengelolaan Kawasan Sabang (BPKS) juga belum menampakkan kemajuan yang berarti. Mungkin baru pondasi kemajuan yang sedang dibangun, untuk menyongsong seperti kemajuan silam. Publik sedang menunggu kiprah lembaga itu, mendambakan kembali yang pernah hadir di sana.

***
Menulis Sabang, saya teringat pada seorang sahabat yang dari luar negeri yang pertama kali berkunjung ke sana, akhir 2008 lalu. Katanya kira-kira begini; tak perlu pelabuhan bebas untuk memajukan daerah ini, cukup kelola saja parawisata.

Saya tak mengaminkan perkataannya. Mungkin saja pendapatnya benar, kalau lah melihat Sabang yang indah dengan taman lautnya, dengan species lautnya, dengan pegunungannya, dengan hutan manggrovenya, dengan pasir putihnya dan dengan ramah tamah penduduknya.

Setiap jengkal Pulau Weh adalah keindahan yang harusnya mampu mendatangkan kemajuan lewat parawisatanya. Tapi kemudian saya terbayang konflik yang pernah berlaku lama di Aceh. Keamanan dulunya menjadi faktor utama, bagi wisatawan untuk ke pulau itu. Tapi setelah damai 15 Agustus 2005 silam tercapai, sepertinya tiada alasan untuk tinggal diam, untuk tidak berusaha memajukan Sabang.

Saya tak meragukan kemampuan warga Sabang dalam soal ramah-tamah dalam menerima pendatang. Tapi kemudian perlu sebuah dukungan dan stimulan sebagai perangsang warga dalam mendukung upaya menghidupkan parawisata.

Perlahan denyut ekonomi telah dibangkitkan sendiri oleh warga yang tidak tinggal diam. Sektor wirausaha pelan berkembang, minimal sudah ada baju yang tercetak dengan kemegahan Sabang, yang dapat dibeli sebagai cinderamata. Tapi kemudian saya sempat bertanya, darimana baju itu dan sablon dibuat. Penjual berkata; kalau baju-baju itu disablon di Bandung sana.

Penting kemudian untuk menumbuhkan ketertarikan warga terdapat wirausaha dalam mendukung parawisata. Penting dipikirkan oleh siapa saja pemegang kebijakan, bagaimana agar minimal cindera mata dapat dibawa pulang oleh mereka yang ke sana. Seperti menjenguk Pulau Bali, ada kerajinan tangan khas di sana dari tas, sepatu, sandal, baju sampai gantungan kunci.

Kecil memang, tapi barang inilah kemudian yang membawa pesan sampai jauh. Bayangkan, jika seorang wisatawan pulang ke negerinya membawa barang yang bertuliskan ‘Sabang’. Maka itu adalah promosi gratis, mereka yang pernah berkunjung akan bercerita tentang keindahannya.

Menulis Sabang, saya teringat Pak Mahyuddin alias Pak Doden, pria paruh baya yang tinggal di kawasan Iboih. Semangatnya pada memajukan parawisata patut diacungi jempol. Dia mengelola dan menjaga kawasan Pantai Iboih untuk menyedot wisatawan yang ingin berlibur dan menikmati kehidupan bawah laut.

Semangat itu telah lama, bahkan sebelum damai Aceh. Tapi gaungnya baru terpantau usai bencana tsunami melanda akhir 2004 silam. Usai ombak gergasi menghantam itu, karang-karang laut tercabut dari tanah. Kerusakan tumbuhan yang menjadi pesona alam bawah laut parah sudah.

Melihatnya Doden bersama kawan-kawannya tak tinggal diam. Lewat pengalamannya, dia kemudian menanam kembali karang-karang, jengkal demi jengkal. Beberapa lembaga ikut membantu. Hasilnya terlihat kini, perlahan alam bawah laut normal kembali. Dan yang lebih penting, banyak yang datang kemudian bercerita, bahwa kawasan Iboih menarik untuk dikunjungi siapa saja.

Kiprah Pak Doden menembus batas wilayah. Namanya terukir tak hanya di media-media lokal dan nasional, bahkan internasional. Saat saya menjengguknya awal September 2009 lalu, dia menunjukkan kopian media yang memuat usahanya membangun parawisata Pulau Sabang.

Dia juga ikut serta membangun dan mengajak warga untuk peduli terhadap pembangunan Pulau Sabang, terutama kawasan lingkungannya yang indah. Doden punya harapan yang disampaikan, bahwa ingin melihat Pulau Sabang maju dan dikenal dengan wisatanya. Hingga kemudian mendatangkan para turis dan investor yang kemudian mampu mensejahterakan seluruh masyarakat. Tak hanya Sabang, bahkan juga Aceh secara umum.

Menulis Sabang, tak boleh hanya dengan lisan dan berharap aturan yang timpang. Perlu usaha nyata untuk menempatkannya dalam kisah-kisah dunia. Parawisata sangat mungkin dan menjanjikan dalam menumbuhkan kembali kejayaan. Penting melakukan berbagai usaha, membangun infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia yang berorientasi pada parawisata. Mengingat kejayaan pelabuhan bebas memang perlu, tapi janganlah melupakan potensi lain, memajukan wisata yang bisa diraih dengan mudah. Karena setiap jengkal tanahnya adalah keindahan.

Menulis Sabang, saya hanya ingin mengingatkan bahwa ada sebuah kisah sejak kerajaan Aceh dulunya, daerah ini telah dikenal dengan baik dan maju dengan pelabuhannya. Kalaupun kemudian langkah untuk mengembalikan kejayaan pelabuhan ditingkatkan dan berhasil, janganlah puas. Karena masih ada pariwisata yang menjanjikan untuk pembangunan ekonomi. Tinggal kepada kita semua dan para pengambil kebijakan, ingin memajukan Sabang atau sebaliknya.

Andai saja Ma-Huan masih hidup dan melihat Pulau Sabang atau sebagai Pulau Wei yang dikenalnya, mungkin dia akan menulis, tentang pelabuhan yang tak ramai lagi, tapi masih ada mimpi yang ingin digapai dari warganya. Dan satu lagi, bahwa ada keindahan yang terselubung dari alamnya, untuk dikembangkan. Kembali kepada kita, bagaimana mau melukis Sabang selanjutnya. ***

Friday, August 29, 2008

SENYUM

By: Adi Warsidi

Kawan, aku tersentak saat romantisme kau tawarkan. Ada keluguan dalam ketak-salahan ketika menyebut hanya senyum dan dengan senyum romatisme bisa dibangun. Itu sajakah? Dan tulisan kawan juga yang menggugah aku menuliskan senyum.

Kalau hanya senyum, siapapun mampu kapan saja bahkan dalam dusta. Aku mulai berpikir dan membuat analisa yang mungkin saja terlihat bodoh. Ketika di utara ada muka-muka tak berwajah seperti tembok, kadang di tempat ini kutuliskan juga sama. Bahkan aku sendiri seperti tembok, ketika senyum telah kuambil dan kutaruhkan di tembok belakangku.


Senyum yang semu tetap ada, dalam wajah mendung dan bukan berarti kugadaikan syukur. Karena senyum bukanlah syukur. Makanya aku lebih suka Peh Tem ketimbang Peh Besoe, karena dalam bunyi nyaring, aku terbawa iramanya dan minimal di situlah senyumku sendiri seperti orang gila.

Sementara Peh Besoe tak nyaring, apalagi besi berisi yang bisa membuat tangan bengkak dan jari-jari bernanah. Melunakkan besi butuh api yang asal muasal jin, setan dan iblis yang kerap tertawa terbahak-bahak melebihi senyum.

Aku lebih suka karet yang elastis. Atau ingin saja seperti Daud, sang Nabi yang mampu menempa besi dan membuat baju zirahnya sendiri untuk mengalahkan Goliath, raja raksasa kejam pada rakyatnya. Goliath sempat tersenyum ketika Daud menantang, lalu menangis.

Senyum tak selamanya romantis kawan. Sering kulihat tebaran senyum dengan bibir miring sebelah, sakitnya lebih menyayat daripada dibentak amarah dan dipukul besi. Aku tak suka senyum yang dibuat dengan lawak murahan, senyum yang dibuat dalam ketidak-pastian hingga terpaksa tersenyum.

Kalau hanya senyum, Hitler pun tersenyum ketika membantai kaum Yahudi, hingga memicu perang. Dan mengutip Iwan Fals; Kalau hanya senyum yang kau berikan, Westerling pun tersenyum...

Padahal Raymond Westerling adalah pembunuh, yang memimpin pembantaian ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan bersama pasukan Belanda berjuluk Depot Speciale Troepen, pada Desember 1946 sampai Februari 1947. Konon, pembantaian itu terjadi selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).

Senyum itu tak selamanya romantis kawan, karena cinta kadangkala bukan dengan senyum, tapi ikhlas. Dan ketidak-ikhlasan muncul ketika kita tahu, kenapa ada wajah yang seperti tembok. ***

Akhir Agustus 2008

Monday, July 28, 2008

Kerinduan

By : Adi Warsidi

Kerinduan-ku bertaut pada angin yang membawa kabar dari empat penjurunya, bahwa telah tergali sumur-sumur untuk pelepas dahaga penduduk sejagad. Anggap saja jagad itu adalah Aceh, tempat lakon cerita ini kita mainkan.

Rekan telah melakukan itu pada setiap meter tanah target. Lalu dalam kerinduanku, rekan kirimkan pesan, ‘Semuanya telah tergali, tinggal menunggu petunjuk lanjut’.

Kusampaikan pesan itu pada panglima, bahwa perintah telah dijalankan sesuai perintah, jelas yang menurutku jelas, dan terbuka yang menurutku terbuka. Panglima keluarkan petuntuk, ‘hubungkan sumur-sumur itu hingga membentuk alur, dari hulu ke hilir’. Ku-teriakkan itu melalui angin dan mulailah lagi kawan-kawan pada tekadnya.


Sampai di sini, dalam kerinduan-ku, kabar muncul lagi. Ada yang ragu, menghubungkan sumur dengan laut tanpa menanam pohon-pohon pada tanah yang telanjur gersang, akan membawa wabah pada warga se-jagad, sumur-sumur akan asin. Laut terlalu sombong dengan airnya yang biru dan tak pernah kering. Dengan ombaknya, dengan luasnya yang mampu menaklukkan tanah-tanah yang telah digali.

Dalam kerinduan-ku, kawan-kawan berujar mari bahwa menanam pohon dulu, baru menghubungkan sumur dari hulu ke laut. Kusampaikan lagi ke panglima, dan aku terjaga dalam mimpi kerinduanku.

‘Keriduan sesungguhnya adalah kuman kematian’. Mungkin tak berlaku umum, karena itu tak datang dari Kitab Suci. Hanya sepotong catatan yang ditulis Leonardo da Vinci, pelukis terkenal itu pada ujung abad ke-15. Da Vinci menulis, ”…manusia, dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru, dan bulan-bulan yang baru selamanya... tak sadar bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”

Sebuah pandangan yang muram mungkin, tapi Da Vinci tak hendak membuyarkan kerinduan kita pada sesuatu. Pelukis zaman renaissance itu kemudian menyitir, kita tak harus menyesali, justru harus menyambut, nasib yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah sampai.

Karena, ‘Kerinduan’ itulah, kata Da Vinci, sebagai ‘sifat dasar kehidupan’. Dan manusia adalah sebuah tauladan, minimal bagi dirinya sendiri.

Kerinduan bukan lah narsisme. Memang kadang ketika kita memandang ke dunia, yang kita temukan adalah wajah sendiri, kawan-kawan kita dan rekan-rekan kita. Lalu kita mengaguminya, tapi bukan berarti –selamanya- kawan adalah kita dan kita adalah kawan.

Ada batasan-batasan yang tak pernah bisa diungkapkan, karena manusia di jagad ini adalah ukuran segala-galanya. Karena juga kami sering menulis semua ‘Manusia’ dengan ‘M’, bukan ‘manusia’ dengan ‘m’. Minimal dalam kerinduan-ku sendiri, yang mungkin ikut membawa kuman untuk kematian-ku sendiri.

Banda Aceh, 11 Juli 2008

Friday, July 25, 2008

Wayang

By : Adi Warsidi

Dalam sebuah tekad, ada pengabdian dan sikap yang mesti dicari, menentukan sendiri. Ketika sebuah tawaran hadiah datang, berharap tak salah. Ketika sebuah vonis dakwaan datang, berharap salah. Ada kehati-hatian dalam jalur timbangan kehidupan.

Hidup memang tak ada yang pasti, tak hitam-putih tapi juga ada abu-abu, tak siang-malam tapi juga ada senja. Tapi kadang, ‘kesempatan hanya datang sekali’, seperti yang pernah dilantunkan pemikir-pemikir yang mungkin juga tak bisa berpikir.


Tak ada pesan apa-apa yang ingin kukabarkan di sini, karena kisah ini hanya abu-abu yang kutuliskan dengan tinta hitam berlatar putih. Karena yang kuidolakan adalah karet dan bukan besi. Bunglon, bukan sapi. Iwan Fals bahkan menulis dalam lagunya, jadilah Durna dan bukan Bhisma, karena Durna punya lidah sejuta.

Dia adalah tokoh guru dalam kitab Mahabarata. Durna mengajarkan segala ilmu untuk anak-anak Pandu dan Destarata, para Pandawa dan Kurawa, yang kemudian berperang sesamanya.

Tak sanggup kita seperti Bhisma. Dia agung dan gilang-gemilang, tapi juga berlaku abu-abu. Dia hidup dalam ketimpangan yang brutal. Keputusannya mulia ketika menolak tahta Hastinapura. Tapi, penolakan itu untuk seorang ayah yang tak mau berkorban. Ia meneguhkan sebuah egoisme.

Ia memang teguh memegang sumpah, tak meneruskan keturunan. Membiarkan ayahnya memberikan gelar raja kepada cucu-cucu setiawati, sang permaisuri baru. Tapi ia tak mencegah ketika Hastina harus dipecah jadi dua untuk memuaskan para pangeran keluarga Bharata yang berasal dari rahim dua ibu, Ambika dan Ambalika, dua perempuan yang ketakutan yang masing-masing melahirkan Destarastra dan Pandu.

Destarata buta dan Pandu terlalu perkasa. Mereka memerintah bersama, dibantu Bhisma sebagai pelindung kerajaan. Pandu kemudian memilih bertapa bersama istrinya Kunti, ibu para Pandawa.

Ghandari mendampingi suaminya yang buta. Menjelang perang Pandawa dan Kurawa, kepada dayang dia berkata. “Kututup mataku karena aku tak ingin hidup hanya mengutamakan penglihatan yang tajam dan cahaya cemerlang, memuja keunggulan memanah, kemilau baju zirah, berkibarnya panji-panji, tegasnya tapal batas. Mata dan terang bisa menghadirkan benda di ruang yang jauh, di dalam dan di luar peta, tapi rabaanku menghargai apa yang dekat dan akrab, telingaku bertaut dengan bunyi dalam waktu.” Ghandari memilih hidup tanpa cahaya. Karena kehidupan baginya adalah hitam dan putih.

Tak ada pesan apa-apa yang tertulis di sini, karena itu hanya cerita yang sering diperankan wayang. Tapi aku rindu pada lirik Iwan Fals, yang mengingatkan; jadilah Durna dan bukan Bhisma, apalagi Ghandari atau Pandu. ***

Banda Aceh, 13 Juli 2008

Monday, July 14, 2008

Batas

By : Adi Warsidi

Tapal itu tak bergaris lurus seperti jembatan panjang yang berbatas pada pinggir, lalu jalan. Tapal itu sebuah abstrak yang tak bisa diraba, berliku-liku, berlekuk dan rumit. Kadang batas tak berbatas dan kadang batas juga tragedi, jurang mematikan.

Sekarang tinggal bagaimana ‘batas’ dibatasi pada pikiran yang bisa menumbuhkan sebuah jalan mulus. Jika itu bisa dilakukan, maka batas adalah sebuah perjuangan. Pada umumnya, perjuangan tak pernah mengenal batas, kendati pejuang telah berbatas mati.


Perbatasan hanya dua sisi, siang berbatas malam, baik berbatas buruk, madu berbatas racun dan putih berbatas hitam. Tapi bukan tak mungkin, sebuah batasan ada yang abu-abu, atau antara keduanya. Kadang berbaur, kalau begini berarti tak berbatas.

Suatu hari pernah kami bertanya tentang batas pada tuan rumah yang tak pernah mengenal kami. Apa yang kami kerjakan sudah benar? Siapa kami? Kenapa kami selalu menkhawatirkan batas kami sendiri? Kenapa kami berlekuk, rumit dan abu-abu? Kenapa kami tidak ini dan kenapa tidak itu?

Tuan rumah itu heran dan memberi jawaban. Siapa anda? Kami pun binggung dan balik memfatwa, kami pun berhak bertanya kepada kawan, siapa kami?

Batas juga bermakna pergi dan kembali. Teringat sajak Sultan Takdir Alisjahbana sekitar tahun 1930-an. Pengarang roman Grotta Azzura itu menulis ‘Telah kutinggalkan engkau,’ pada batas untuk teluk teduh tempat asalnya. Dalam sajak itu, ia putuskan untuk mening¬galkan alam tenang yang dilindungi gunung. Sultan memilih laut luas tanpa proteksi; ia bebas, sebab itu ia berani menghadapi mara bahaya dalam ketakpastian cuaca.

Mara bahaya dan kacaunya cuaca mungkin adalah tidak adanya batasan dalam pilihan Sultan, ketika dia sudah berani meninggalkan tempat asal sebagai batas. Tapi kadang tak berbatas yang dicari adalah awal langkah mencari batas. Dan bukankah perjuangan juga tak berbatas? Lalu kenapa perlu putih atau hitam? Siang dan malam dan seribu lainnya.

Entahlah, di akhir biarkan kami menulis, ‘boleh biarkan batas perjuangan tak berbatas, karena batasku adalah mati’. ***

Banda Aceh, 28 Juni 2008

Wednesday, June 11, 2008

Komunikasi

By: Adi W

Kerap aku menghempaskan kata pada laptop di depanku. Biasanya saat kelabakan ketika deadline hampir dekat, tulisan kurang, kepala sakit, istirahat semakin minim saja. “Laporan tak masuk, kenapa anak-anak semakin malas?”

“Apa yang salah..., monyet.... monyet,” serapahku lagi. Tak ada yang menjawab, kawan-kawan hanya mendengar. Hening tak ada komentar. Maklum saja itu pertanyaan retorik, tak butuh dan tak ada jawaban. Aku tak sedang berbicara dengan kawan-kawan di sini. Aku sedang bicara pada laptop, meja, kursi, gelas, asbak dan bahkan sepatu. Benda itu sama saja diam.


Andai saja aku sedang memakai baju dengan label ‘Pasien RSJ’, maka orang pasti akan mendakwa ‘orang gila’. Tapi tidak, semakin besar suara memaki meja, aku malah semakin tenang, bukan semakin gila. Aneh.

Ajaibnya lagi, itu juga dilakukan oleh sebagian besar kawan-kawan di sini. Lelah ketika harus berkutat dengan masalah itu-itu saja, nol perubahan. Itu adalah sekelumit peristiwa yang mungkin bodoh, tapi aku menganggap itu bentuk komunikasi. Minimal untuk pribadi.

Komunikasi kadang tak mengenal objek, tidak mengenal lawan bicara, tak peduli lawan bisa mendengar atau tidak. Sebut saja itu namanya komunikasi ‘tak wajar’. Tapi ada kebiasaan, komunikasi seperti itu akan lahir bila si pelaku telah berkomunikasi se’wajar’nya kepada lawan yang bisa bicara, mendengar dan merasa.

Bicara komunikasi, pada prinsipnya tak ada di antara kita makhluk Tuhan yang tidak melakukan komunikasi. Semua yang hidup bisa, bahkan alam pun mampu melakukan itu ketika mengirim banjir bandang akibat rusaknya hutan. Apalagi harimau yang ganas memangsa apa saja, bila merasa diganggu habitatnya.

Komunikasi beragam definisi, hampir tak ada satu yang baku. FEX Dance dari Universitas Winsconsin pada tahun 1970 pernah mencoba mengumpulkan definisi komunikasi yang ada. Hasilnya adalah 98 arti alias maksudnya.

Kemudian Severin dan Tankard dari Universitas Texas pernah menyebut bahwa komunikasi terbagi dalam tiga kelompok, yaitu menekankan pada berbagi, persuasi dan respon.
Komunikasi mengandung unsur art, science dan technology. Artinya dalam komunikasi terdapat hal-hal yang tidak bisa dilakukan berdasarkan common sense belaka. Di samping ada hal-hal yang alamiah, namun ada elemen yang perlu diketahui atau dipelajari supaya komunikasi bisa berjalan baik.

Lebih khusus lagi, perlu diketahui komunikasi itu mengandung isi dan pesan. Kadang ada juga komunikasi yang tidak jelas apa isi dan pesan yang mau disampaikan. Ini mungkin menyangkut profesionalisme. Atau lawan bicara yang seperti meja, kursi, asbak dan sepatu.

Kurasa komunikasi penting untuk jalannya sebuah sistem. Menulis ini, juga komunikasi.
[]

Banda Aceh, Mei 2008 [AI]

Wednesday, May 28, 2008

Kerja

By: Adi W

Suatu hari di kedai kopi. “Aku tak bekerja lagi, kontrak itu baru saja diputuskan,” kata seorang sahabat saya. “Tolong kalau ada kerjaan, dibagi tahu.”

Kelakar saya berujar, “kau pandai, tak sulit bagi orang yang sepertimu mencari kerjaan lain.” Tapi, dia melanjutkan lagi dan sempat membuat saya terkesima. “Anakku bos, istriku bos, orangtuaku bos, rumahku yang belum lunas kreditnya, adik-adikku yang harus kubantu. Pening aku,” celotehnya. Saya tersenyum saja.


Sampai di sini kopi kami datang setelah sepuluh menit dipesan. Hujan masih deras saja di luar sana, berbicara seperti berteriak. Saya teringat masa kala bernasib sama, pengangguran. Pedih memang, gamang tak tahu berbuat apa.

Sahabat saya bukan orang sembarangan. Pendidikannya sarjana. Indek Prestasi Kumulatif (IPK)-nya saat tamat dulu tinggi; 3,8. Nyaris sempurna. Tapi, kenapa dia bisa seresah itu memikirkan pekerjaan, padahal dia orang pandai.

Saya membuka lagi diskusi ketika teringat sebuah petuah yang tak tahu lagi siapa pencetusnya. Katanya; ‘Pekerjaan itu bukan tujuan, tapi nasib’. Setuju atau tidak? Terserahlah kepada kita bagaimana menilainya. Yang jelas mencari pekerjaan itu gampang dan susah. Mudahnya; negeri ini begitu subur, jangankan mencari pekerjaan, membuat pekerjaan saja bisa. Tapi kadang tak terpikirkan, banyak kita yang terperangkap pada kerja-kerja yang praktis; pegawai negeri, bekerja di NGO, LSM Internasional, perusahaan-perusahaan dan lainnya yang selalu menyediakan gaji per bulan.

Artinya, masih tergantung pada yang kaya yang punya uang. “Apa kau tidak berpikir untuk menciptakan pekerjaan sendiri, membantu orang lain untuk mendapatkan pekerjaan. Karena kau orang hebat, kalau tidak kau robek saja izajah mu yang menabalkan tulisan cum laude itu,” kata saya. Dia tertawa. “Aku tak sepandai itu dan tak punya modal,” ujarnya.

Sisi susahnya, jenguklah bumi kita. Negeri yang baru saja dihempas petaka tsunami dan konflik ini, masih sedang menata diri. Pekerjaan susah didapat, kemiskinan merajalela, ekonomi masih morat-marit, investor masih belum unjuk diri, mungkin khawatir dengan konflik lama yang panjang. Konon pemimpin telah berjanji akan menciptakan lapangan kerja untuk memberangus pengangguran.

***
Pada sebuah lokasi di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Kampung Jawa, Banda Aceh. “Saya bukan pengangguran, saya pemulung. Saya punya penghasilan,” kata seorang Pak Pemulung.

Di Simpang Lima, Banda Aceh. “Mengemis adalah pekerjaan bagi saya, dari ini saya hidup. Kalau mau saya berhenti, beri pekerjaan lain buat kami,” kata Pak Pengemis.

Di Kecamatan Peusangan, Bireuen. “Pekerjaan saya menebang hutan dan kayu saya jual, saya tak tahu bekerja lain,” kata Penebang Hutan.

“Saya petani, hanya punya sawah sepetak, ini tak cukup. Saya tak tahu apa pekerjaan lain, sekolah saya tak tamat SD (sekolah dasar),” kata Pak Petani.

“Saya punya pekerjaan, saya nelayan,” kata seorang nelayan di Alue Naga.

Kenyataan-kenyataan itu masih saja menderu. Pemulung dalam kemiskinan, pengemis menentut, petani hidup tak cukup, nelayan tak berkecukupan, hutan jadi lahan. Sawah-sawah itu, laut-laut itu, hutan-hutan itu ada potensi yang besar yang harusnya cukup untuk hidup para pengolahnya. Khusus untuk hutan, tentu tak perlu mengganggu lingkungan.

Di luar itu pengangguran masih menjadi ancaman. Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.

Teorinya, ini disebabkan karena jumlah angkatan kerja yang tak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Kerap pengangguran menjadi masalah dalam perekonomian. Karena dengan adanya penganggur produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang, sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh pernah mengatakan kepada saya, banyaknya pengangguran bisa saja berpotensi mengganggu keamanan. “Karena orang menganggur itu sabarnya akan terganggu,” katanya.

Menanggapi itu, Irwandi berencana untuk menguatkan ekonomi berbasis rakyat. Kongkritnya, melakukan langkah untuk mengurangi pengangguran dengan penyediaan lapangan kerja. Ekonomi kerakyatan adalah prioritas yang dijalankan bersamaan dengan ekonomi berbasis kapital dan modal. Ini sudah mulai berjalan. Harapannya, “sehingga terciptalah golongan kelas menengah yang lebih banyak di Aceh,” katanya.

Tak mudah seperti membalikkan telapak tangan memang, perlu kerja keras menyiapkan Sumber Daya Manusia yang tak lagi tergantung kepada orang lain, negara lain yang lebih maju. Artinya, saya mengutip kata Pak Islahuddin, pakar ekonomi Aceh; masyarakat jangan terlalu bergantung dengan lapangan kerja yang disediakan pemerintah maupun swasta. Tetapi lebih memikirkan bagaimana menciptakan lapangan kerja yang kreatif dan inovatif sehingga bisa menciptakan sesuatu yang baru.

Kita tunggu saja, entah sampai kapan? []

[Banda Aceh, Januari 2008]

Wednesday, May 21, 2008

Gila

By: Adi Warsidi

Siapakah orang gila? Melihat riset, pasca tsunami dan konflik di Aceh tak banyak pasien jiwa. Tapi sebuah pendapat dan kenyataan lain, orang gila di Aceh meningkat drastis setelah dua bencana itu.

Suatu hari, seperti biasa saya mengisi pagi dengan rutinitas ‘ngopi’, di warung Solong, Ulee Kareng. Tempat itu konon kedai kopi terbesar di Banda Aceh, dan telah menarik pelanggan dari para menteri, gubernur dan kelas bawahan. Tak ingin saya menyebutkan bahwa tukang becak dan tukang sapu sebagai kelas bawahan.


Sepele saja alasannya, karena sudut pandang bawahan dan atasan hanya pada isi kantong. Kalau soal moral, saya berani bertaruh, bahwa kadang tukang becak dan tukang sapu lebih mulia dari pejabat sekalipun. Lebih setia kawan, lebih bisa diajak bicara dan lainnya. Dari segi ekonomi memang mereka kalah, sama seperti saya. Sangat tak sopan, ada bawahan meledek dengan kata-kata itu untuk sesama kaum rendahan.

Ada sebuah status tak terbatas yang bercerita tentang kaum saya, para wartawan. Sering terkisah, wartawan bisa setara dengan presiden dan bisa lebih rendah dari pengemis atau pengangguran. Bayangannya: wartawan bisa seenak droe masuk ke Istana Presiden, apalagi ke pendopo gubernur di Banda Aceh, untuk sekedar bercengkrama atau tugas wawancara.

Tapi di lain pihak, jurnalis bisa seperti pengangguran atau pengemis. Tidur dimana saja saat melakukan liputan, mandi jarang jika harus turun ke kampung berhari-hari atau bahkan jarang sikat gigi. Kabarnya, juga ada yang seperti pengemis betulan hanya lebih terhormat. Sssttt, jangan meledek kaum sendiri..., sorry... terlepas dari hati.

Kembali ke warung yang juga banyak diserbu pengemis -yang sebenarnya- itu. Baru 10 menit saya duduk bersama rekan-rekan, seorang berpenampilan kusut dengan baju lusuh dan kotor, rambut panjang gimbal dan acak, masuk ke warung. Semua tahu dia, karena telah biasa. Dan semua meng-klaim-nya sebagai orang gila. Kendati tak ada yang berani menyebutnya di muka si gimbal itu. Kalaupun ada, mungkin dia akan cuek saja.

Tanpa bicara sepatah pun, dia merapat ke meja yang ada nasi bungkusnya. Satu diambil, dan bergegas mencari tempat kosong yang kebetulan ada di meja paling depan. Duduk sebentar saja sambil menyantap nasi, kopi sudah diantar ke tempatnya, walau tanpa memesan. Padahal saat itu, kedai sangat ramai. Bayangkan, kalau anda duduk di sana tanpa memesan dan lolos dari perhatian pramusaji, dijamin kopi anda tak bakalan datang sampai setengah jam kemudian.

Saya sering memperhatikan dia, ada tata krama sendiri dan tak pernah menganggu para pelanggan. Usai menyantap makan, masih dengan kebisuannya, dia bergegas pergi entah kemana, mencari peraduannya dalam pikiran yang tak berarah.

Setidaknya ada dua orang gila –seperti orang menyebutnya- yang beredar di Ulee Kareng. Satu yang tadi dan satu lagi Si Alu, dengan rambut ala ‘Bob Marley’-nya, dengan tanpa baju, yang melintas saban hari dari Darussalam ke Ulee Kareng. Hanya saja Si Alu tak pernah singah di Solong, mungkin ada tempat langganan lain.

Dulu saya sering mendengar tentang Si Alu, entah benar entah tidak. Kabarnya, dia adalah bekas mahasiswa di Unsyiah yang berubah prilakunya seperti sekarang, karena putus cinta dengan sang kekasih yang mengkhianatinya. Kalau benar, kasihan Si Alu, yang masih gelap dalam mencari cintanya yang hilang. Entahlah ...

Ada banyak kisah yang mengherankan saya tentang orang-orang seperti mereka, tentu dalam perilakunya tak pernah menganggu sesama, tak pernah meledek, mengejek dan sebagainya. Semua berjalan pada porosnya.

Lihatlah Nek Sion yang sudah renta tapi sanggup berjalan dari Darussalam ke Kutaraja. Misinya hanya mencari belas kasihan dengan selembar uang, “Bie peng sion (minta uang selembar),” katanya saat meminta.

Merenung mereka, teringat pada sebuah pagi di January 2005, sebulan setelah tsunami. Saya dan seorang rekan melakukan liputan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Memang saat tsunami banyak penghuninya yang lari menyelamatkan diri, karena pada saat gempa para pegawai membuka pintu-pintu.

Kata yang berwenang, banyak pasien yang sudah kembali, hanya tinggal beberapa lagi di luar atau mungkin telah menjadi korban. Unik, mereka tahu kembali ke asalnya.

Setelah liputan, saya menikmati sejenak sambil mengusili pasien yang telah hampir sembuh dan bisa berkeliaran di halaman, pikir saya sekedar melepas stres. Ada yang bercerita tentang keinginan menjadi tentara, ada yang putus cinta, dan berbagai lainnya. Ehh... tak lama, malah saya balik diganggu oleh seorang pasien wanita yang rambutnya dikepang dua.

“Aduh, abang artis ya, rambutnya panjang,” sebutnya sambil tertawa dengan kepada rekannya. Saat itu, rambut saya masih panjang ikal. Masih panik, si rambut kepang menyaru lagi, “minta uang dong abang artis.” Baru mau berkelit, dia sudah usil lagi, “artis, ganteng, tapi pelit, nggak kawan ahh...” Dia lalu pergi begitu saja.

Si Pria yang ingin jadi tentara berujar, “bang gak usah di-open, gilanya itu masih parah.” Duhhh... saya tergelak dan memutuskan untuk segera pergi, lama-lama saya bisa jadi gila juga, meladeni pasien jiwa.

Tapi saya tak mau membohongi, bahwa ada banyak kisah bijak terambil dengan penuh sadar, dari kegilaan mereka dalam mencari kehidupannya.

Pasca tsunami dan konflik, tak banyak memang pertumbuhan jumlah pasien jiwa di Aceh, tapi ada. Begitu setidaknya hasil riset lembaga-lembaga kajian tentang ini. Artinya, tak banyak orang stres setelah dua bencana itu. Itu sedkit membanggakan kita.

Tapi pada sisi lain.
Sehari sebelum saya duduk di Ulee Kareng itu, saya Jumat-an di Mesjid Lamreng, Meunasah Papeun, Aceh Besar. Saya tercengang saat khatib mengutib sebuah hadist Nabi Muhammad. Kisahnya kira-kira seperti ini: Suatu hari saat Nabi Muhammad masih hidup, beberapa anak dilihatnya sedang menganggu orang gila. Nabi menegur, “jangan kau ganggu dia wahai anakku.”

“Kenapa wahai Rasul, dia kan orang gila,” seorang anak menyela. “Dia bukan gila, tapi sedang mendapat cobaan Allah,” kata Nabi. Para anak-anak itu berhenti, sampai kemudian beberapa sahabat menanyakan, “lalu siapa sebenarnya orang gila.”

Nabi pun menerangkan: “Orang gila adalah pemimpin yang sombong dan congkak, orang kaya yang sombong dengan hartanya, orang pintar yang sombong dengan kepintarannya dan orang miskin yang sombong dengan kemiskinannya.” Begitulah kira-kira yang saya rekam.

Sejak saat itu, saya merubah pendapat saya tentang orang gila yang sesungguhnya. Yang biasa disebut gila, saya sebut dengan sakit jiwa. Dan ‘orang gila’ sesungguhnya, saya tak berani menyebutnya siapa mereka. Semakin berpikir, saya bisa semakin gila.

Dua hari ini saya merenung tentang tatakrama orang yang sakit jiwa yang sering ditabalkan sebagai orang gila. Mereka sopan asal jangan diganggu, tak menganggu bila tak diusik. Tapi ada yang benar-benar gila seperti kata Nabi yang mengusik tanpa perlu diganggu.

Saya tak ingin berceramah, karena tidak sedang menjadi khatib. Tapi, sang khatib pada akhirnya menyampaikan kesimpulannya. “Kalau itu yang disebut gila, maka banyak sekali orang gila di Aceh,” sebutnya.

Mungkin saja. Pada sisi lain, pasca tsunami dan konflik orang gila semakin bertambah. Jika orang kaya sombong maka dia adalah ‘orang gila’, orang pintar angkuh maka di juga ‘orang gila’, si miskin sombong juga ‘orang gila’ dan pemimpin yang congkak bin sombong juga masuk kelompok ini.

Siapa saja mereka? Pembacalah yang menilai sendiri. Ketika zaman sudah saling sikut untuk merebut kuasa alam. Ketika bibir menjadi manis untuk merebut simpati orang. Banyak yang kadang mengumbar congkak dengan segepok uang. Ada juga yang sok tahu dalam kepintarannya yang bodoh.

Bahkan mungkin saja, saya sendiri juga masuk kategori orang gila. Kegilaan yang mengalahkan cueknya Si Kusut Kedai Solong, Si Alu yang tahan terik, Nek Sion yang tegar dalam rentanya, Si Pria yang ingin jadi tentara dan Si Rambut Kepang Dua yang mengatakan saya artis yang pelit.

Entahlah... saya masih merenung dengan kegilaan Aceh setelah tsunami dan konflik. [A]

Friday, April 25, 2008

RIMBA

By: Adi Warsidi

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang,
berpadu dengan jerit isi rimba raya,
tawa kelakar badut-badut serakah,
tanpa HPH berbuat semaunya...
Lestarikan alam hanya celoteh belaka,
lestarikan alam mengapa tidak dari dulu...
ooohh mengapa???

Spontan saja bibir ini bergerak melafalkan bait di atas, saat saya menulis tentang hutan. Irama jari tangan jatuh ke keyboard pada notebook bagai piano. Larut dengan tembang lawas yang tercipta sekitar tahun 1990-an, milik penyanyi rakyat, Iwan Fals.

Belum lagi, ketika melihat foto-foto hasil jepretan kawan-kawan. Ada hutan gersang, ada alur sungai yang kian berkurang debit airnya, ada kayu gelondongan yang diangkut, ada kebakaran hutan yang menghanguskan, ada pembukaan lahan yang tak ramah dan semuannya.

Iwan telah mengingatkan kita sejak lama, soal hutan yang kritis. Alam jadi tak seimbang ketika rimba semakin habis, banjir dan longsor datang. Satwa liar mengamuk dan manusia juga yang menjadi korban kemudian. Pelajaran selalu datang ketika alam mengirim petaka, banjir bandang di Aceh Tenggara, Oktober 2005 silam, banjir bandang di tujuh kabupaten/kota pada wilayah Aceh bagian bagian utara, timur dan tengah pada Desember 2006 lalu.

Harimau dan gajah pun ikut protes, tapi tak mengusung spanduk, ketika habitat mereka terjarah parah. Aksi mereka dengan auman, dengan cakar, dengan taring, dengan belalai, dengan gading dan kaki kekar yang menginjak-injak. Lagi-lagi, kaum kita juga yang menjadi korban.

Andai saja harimau dan gajah dan seisi rimba bisa berkata, pasti dia akan berpesan; ‘Cukup Sudah, jangan lagi jarah rumah kami’.

Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi,
Musnah dengan sendiri-nya akibat rakus manusiaaaaa....

Lagi-lagi, penyanyi country itu dalam bait lagunya.

***
Kala kondisi rimba miris, pemerintah Aceh punya konsep baru yang tak baru lagi. Maklum, soal pelarangan hutan telah diimbau dari dulu. Pada 6 Juni 2007, Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh mendeklarasikan Moratorium Logging untuk sebuah kebijakan jeda tebang. Kata Irwandi, “bukan hanya yang illegal, yang legal saja dilarang.” Artinya secara teori, tak ada pohon lagi yang tumbang setelahnya.

Tapi, ada satu yang mengkhawatirkan. “Pakai apa Pemerintahan Aceh mengawasi hutan, modal ngomong saja atau hanya sekedar mengejar popularitas dan simpati,” celoteh seorang kawan. Tapi bagi saya, langkah itu kendati bukan hal baru mesti didudukung. Hutan tak boleh dibiarkan gundul dan dalam hal ini Pemerintahan Aceh, 200 persen benar.

Tapi, kadang saya juga geli sendiri melihat kenyataan di lapangan. Hutan makin banyak yang bopeng bahkan lebih dari sebelum damai ada. Wajar, perang kadang menjadi pagar sendiri buat hutan. Mana ada orang bodoh yang mau menebang di rimba yang kerap terjadi kontak senjata. Kalau pun ada, satu-dua.

Setelah damai, jangan tanya. Di Lhoong, di Jantho, di Bireuen, di Aceh Tenggara, di Bener Meriah, di Aceh Selatan, di Aceh Timur, di Aceh Utara dan hampir seluruhnya, saban hari ada saja pohon yang tumbang. Setelah deklarasi sama saja. Fenomena ini menabalkan, moratorium logging seakan tak punya taring.

Sulit memang. Dengarlah komentar Kek Abu, umurnya hampir 70 tahun, seorang penduduk lokasi hutan di Lhoong, Aceh Besar. Katanya debit air sungai di sana kian kurang karena rimba tak rindang lagi, beda dengan waktunya masih muda yang kondisi sungai selalu normal.

Siapa pelakunya, Kek Abu tertawa lepas menampakkan giginya yang tak utuh lagi. “Pane mungken hana ka teupu (mana mungkin kamu tidak tahu).” Setelah memaksa, Kek Abu pun cerita. Ada warga yang tinggal di sekitar hutan, mereka punya beking Si Anu dan Si Anu... Namanya memang biasa saja, tapi embel-embel di belakangnya, saya ngeri sendiri menuliskannya. Tak percaya, menyamarlah sekali-kali turun ke dasar hutan, jangan asyik menuduh orang menyebarkan fitnah dan mengutuk pelaku pembabat hutan dari balik meja.

Hutan memang menggiurkan. Tapi mencegah pembalakan hutan hampir mustahil dilakukan tanpa langkah memajukan ekonomi masyarakat seputar rimba. Masyarakat harus diajarkan untuk melupakan kayu, dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu lainnya. Satu lagi, berikan solusi pekerjaan lain buat warga, agar mereka lupa kayu-kayu itu dan jangan asyik berpikir tentang isi rimba yang menggiurkan. Caranya, pemerintah punya cerdik pandai di sekitarnya. Saya yakin pasti bisa, asal mau saja. Jadi bukan hanya sebatas melarang. []

Banda Aceh, November 2007. [Aceh Magazine]


AZASI

By : Adi Warsidi

Azasi adalah hak yang dijamin Tuhan. Hak ini dapat ditelusuri dalam konsep-konsep hukum dan keadilan sejak zaman Adam dan Hawa. Tuhan menjaminnya dalam kitab-kitab, misalnya Alquran dalam Islam, Injil dalam Kristen, Lotus Sutra dalam Budha dan kitab suci lainnya. Setidaknya ada satu perintah yang dilarang, membunuh, menyiksa, mengambil hak seseorang dengan semena-mena.

Seiring zaman, dunia menyusun hukumnya sendiri yang tak jauh dari ajaran Tuhan. Contohnya sebuah deklarasi yang diakui negara-negara di dunia, Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (DUHAM) 1948 berfatwa; ‘Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan... dengan tidak ada pengecualian apapun, seperti perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama .... atau kedudukan lain’.

Nah... itu teorinya, prakteknya bisa saja jauh melenceng. Lihatlah pada bentangan selebar jagad, adakah yang kuat adil kepada yang lemah? Negara yang kuat sering menyerang negara yang lemah, yang gagah sering menggagahi yang lugu, yang besar sering memukul yang kecil, yang bersenjata kerap menembak seenaknya saja.

Di Indonesia -negara kita- sama saja. Aceh bagiannya juga bernasib sama, ada keadilan-keadilan yang tak rata. Rakyat kecil umumnya.

***
Di Aceh. Ada yang selalu saya tanyakan ketika bertemu kawan-kawan, umumnya dari para petinggi atau aktivis. Rutinnya ... kepada para aktivis. Pertanyaannya kira-kira seperti ini; Bisakah menghadirkan Pengadilan HAM atau KKR?

Jawabannya beragam, ada yang bisa, ada yang tidak. Ada yang tanpa alasan dan ada dengan segudang pernyataan. Intinya, dua jawaban itu hampir sebanding, hanya satu dua yang menjawab ‘No coment’.

Di Aceh, isu itu memang menghangat sejak Aceh ‘Merdeka’. Jangan panik dulu... ‘Merdeka’ di sini bukan dalam arti pisah dari Indonesia, tapi bebas dari perang, setelah damai disepakati pada 15 Agustus 2005 lalu. Ada yang istimewa soal mengatur sendiri pemerintahan, dengan lahirnya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Sebagai penelusuran yang (kurang-lebih) sesuai dengan MoU Helsinki. Ada amanat di sana untuk menegakkan keadilan bagi korban di Aceh. Tapi ada juga kendala, setelah Mahkamah Kontitusi membekukan UU No. 27 tahun 2004 tentang KKR Nasional. Bukankah KKR Aceh mengacu ke sana? Lagi-lagi, ini tertuang dalam UU-PA dan MoU Helsinki.

Sesulit mencari ketiak ular, begitulah ibaratnya. Sulit menghadirkan Pengadilan HAM dan KKR di Aceh dalam waktu dekat. Satu sisi, deadline sudah lewat seperti tercantum dalam UU-PA; setelah setahun UU itu disahkan. Satu sisi lagi akan mudah, karena tak ada lagi batasan yang harus dikejar.

Optimis dan pesimis bercampur baur dalam pemikirannya memandang payung bagi azasi itu. Sebutlah jika azasi yang dijamin Tuhan itu didatangkan melalui Qanun (Peraturan Daerah) yang mengacu pada UU-PA. Pertanyaannya, bisakah semudah menengak secangkir kopi pagi di warung Solong, Ulee Kareng? Entahlah...

Belum lagi soal pemahaman di majelis rendah. Coba tanya saja kepada mereka di pelosok Pidie atau Bireuen. “Saya tak begitu mengerti apa itu,” seorang korban pernah mengadu. “Tapi bagi saya, keadilan kepada korban harus ada di Aceh,” gugatnya.

Ngomong azasi, itu penting di sudut bumi mana saja. Tapi kerap yang menyangkut azasi kelas bawah, putus di tengah jalan. Bukankah terlalu panjang merunut kisah-kisah itu? Sejak dulu, kala Aceh masih perang.

Lihatlah, dimana keadilan untuk kasus pembantaian Tgk Bantaqiah dan murid-muridnya pada 23 Juli 1999. Peristiwa simpang KKA pada 2 Mei 1999, peristiwa di Idi Cut dan Krueng Arakundo pada February 1999, lalu ada kasus pembunuhan terhadap aktivis RATA pada Desember 2000. Lalu ... lalu, ada ratusan lainnya yang terdiam bagai peti es.

Peti es ini, bisa jadi mencair suatu saat. Pengalaman yang paling berharga yang sering muncul adalah soal generasi pendendam. “Saya ingin mencari pembunuh ayah saya,” kata seorang anak yatim di Bireuen, yang ayahnya meninggal semasa konflik.

“Saya sebenarnya masuk polisi karena ingin membalas kematian keluarga saya yang dibantai,” kata seorang polisi kepada saya. Begitulah, generasi-generasi Aceh menjadi pendendam dari hari ke hari, jika semua ini tak diselesaikan secara damai.

Damai memang telah ada, tapi soal keadilan bagi korban belum ada. Bukankah banyak korban dan keluarganya yang berpesan, ‘Tidak ada artinya perdamaian tanpa keadilan buat korban.”

Banda Aceh, September 2007.

Thursday, April 24, 2008

Tahun

By: Adi Warsidi

MEREKAM detik-detik, pastilah menemukan hari, lalu ada tahun di ujung. Kerap disebut sebagai waktu yang bergulir, sebagai perubahan, sebagai dewasa, sebagai kemajuan, walau kadang yang dimaksud adalah kemunduran. Menjejak waktu, adalah pasti yang tak ingkar pada uang, tak kejam pada orang. Dia berlalu saja seperti pesawat dan kereta api, tapi tak pernah kembali.

Jauh hari, 1953 dan 1976 datang membawa konflik. Maaf lupa, perang telah ada sejak 1873 ketika waktu membawa Belanda. Kemudian 2005 membawa damai, sesaat setelah 2004 membawa gempa dan gelombang raksasa ke Bumi Serambi. Siapa mampu menebak semua itu? Bahkan orang tahu, sadar dan menyesal setelah dia berlalu.

Sebut saja dua bencana yang selalu dijanjikan tahun-tahun, ciptaan Tuhan dan karya manusia. Yang disebut terakhir, tak termasuk bencana tsunami, melainkan gundulnya hutan-hutan hingga banjir bandang, korupsi, perampokan, pembunuhan dan ketidakadilan yang dibuat manusia yang selalu berpikir seakan-akan dia sudah adil.

Tahun-tahun yang berjanji selalu. Selain pesan Tuhan, tahun lewat akan selalu memberikan sinyal bahwa yang dibawanya adalah kebaikan dan keburukan ke tahun depan. Sering itu pasti, semisal memotong hutan sembarangan, maka tunggu saja waktu memberi kabar tentang banjir bandang. Tahun-tahun abstrak, hanya saksi apa tingkah kita, kelakuan manusia.

Kita pasti tak berharap petaka, tak seperti Surya Thayeb, seorang warga di Kampung Jawa yang berharap dengan membuang kekecewaannya. Kepada saya dia berujar, “saya mendoakan tsunami lagi.” Saya tercengang.

Alasannya? “Biar semua orang tahu, biar orang NGO yang di Aceh tahu, orang BRR yang di Aceh bisa merasa langsung tsunami menghantam tubuh-tubuh mereka. Biar semua sadar, bahwa kami para korban tak boleh dipermainkan.” Dalam berharap petaka, dia bersurat bahwa harapan korban adalah percepatan rekontruksi dan rehabilitasi Aceh.

***
Tahun lalu dan tahun kini adalah sebuah kompleksitas kehidupan, yang dibuat makin rumit oleh manusia selanjutnya dan selanjutnya. Tahun telah diringkus dan diringkas-ringkas dalam catatan-catatan yang semakin lama semakin usang. Kerap tahun dicatat oleh yang pemegang kekuasaan, bila ada kejadian-kejadian dasyat. Selalu itu, tapi jarang yang sesudahnya menjadikan pelajaran.

Teringat 2007 dari 2006, ada sebuah potret yang patut dikenang, sebuah pesta yang tak lazim dilakonkan dan tak disangka siapa saja. Menjelang 2006 menjadi sampah, sebuah hajatan menabalkan mantan gerilyawan dari penabalan 1976 menjadi gubernur dalam pemilihan rakyat Aceh. Irwandi Yusuf tokoh itu. Ini tak terjadi andai 2005 tak datang mendamaikan perang.

Aceh kemudian baru di tahun 2007, saat pemimpin yang terpilih dari tangan-tangan rakyat yang cukup menderita dalam konflik dan perang diagungkan bak sultan. Kenduri rakyat disenandungkan, doa dilayangkan, harapan ditancapkan, demokrasi dinanti, darah diharap tak mengalir lagi dan seribu lainnya. Tapi sampai 2007 tercampak, masih ada harapan yang tertangguhkan, ada nafsu yang belum jadi, ada mimpi yang masih tak tergapai. Ada yang sabar ada yang tidak, menuntut lagi dan lagi.

Mengingat 2007 di 2008 adalah sebuah kenang yang tak bisa diulang. Kalau pedih maka tangis dan sesal, kalau indah maka sorak dan riang. Tapi siapa peduli? Desember yang lalu telah habis, malam tahun baru lewat, kalender telah berganti dan 2007 teronggok di tumpukan sampah. Sampai kini, mimpi-mimpi mungkin dicoba kembali raih, berharap semua akan lebih baik di tahun baru.

Pertanyaan pun berganti, apa yang akan datang? Siapa yang akan datang? Bagaimana damai kita? Rehab-rekon kita? Nasib korban konflik kita? Kisah mereka yang masih di barak? Berubahkan? Atau sampai 2008 dirobek lagi, kisahnya akan sama saja. Atau bahkan terulang lagi seperti 1953 atau 1976, semoga tak lagi.

Setidaknya ada satu yang mungkin membuat kita bisa puas, berpikir jernih. Bahwa Tuhan telah mencabut tahun-tahun konflik dari bumi kita. Soal kepuasan, manusia mana pernah puas dengan tahun yang selalu dianggap tak lebih baik? Jawabnya mungkin manusia serakah, kalau tak semua kita serakah. Golongan ini akan selalu meninggalkan tahun-tahun dengan kecemasan, berharap tahun depan dengan pundi uang dan kekuasaan.

Kalau ini masih terus dilakukan, haraplah waktu datang akan membawa petaka lagi akibat karya manusia atau Tuhan akan mengirim pesan. Saya setuju, kita tak berpikir untuk petaka itu. Kita boleh saja mati bersama 2008 nanti. Tapi tahun-tahun sesudahnya terus bergulir. Dia berlalu saja seperti pesawat dan kereta api, tak bisa kembali, hanya sedikit memberi tahu untuk kita tahu. []

Banda Aceh, Desember 2007. [Aceh Magazine]



Mesum

By: Adi Warsidi

“Mate aneuk meupat jrat, mate adat pat tamita” (Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya). Itu ucapan Iskandar Muda, sambil berdiri di depan dewan hakim yang terhormat. Mukanya merah padam, ketika putra mahkotanya divonis telah melakukan perbuatan mesum dengan seorang istri pejabat istana. Sekiranya tahun 1629 itu, putranya terbukti berzina, tinggal menentukan hukuman apa.


Para hakim tentu binggung, menentukan dera sesudah vonis. Kali ini yang duduk di kursi pesakitan bukan hamba sahaya, tapi putra mahkota, kesayangan Raja Aceh yang berjuluk panjang: Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat. Yang telah berhasil menaklukkan banyak wilayah, membawa Aceh kesohor di dunia dalam masanya memerintah, 1607 sampai 1636 Masehi.

Binggung hakim terbaca sultan, “pancung,” serunya lantang. Semua terkesima, tak kuasa membantah titah. Meurah Pupok, sang putra mahkota ditahan, menunggu hari pelaksanaan.
Para pejabat tinggi istana berusaha membujuk Iskandar, meminta keringanan hukuman, minimal sang putra tak perlu mati. Permaisuri Putroe Phang pun dipasang ikut membujuk. Sultan bergeming, katanya malu pada rakyat dan Tuhan. “Kalau rakyat dirajam, anak saya harus dipancung,” katanya kala itu.

Begitulah, karena mesum. Sampai hari H, tak ada algojo yang berani menyentuh tubuh Meurah, Sang Sultan lah yang memancung anaknya sendiri di depan para rakyat yang berkumpul di alun-alun kerajaan, depan Masjid Raya Baiturahman. Meurah Pupok kemudian dikebumikan asing di sekitar itu, sampai sekarang jrat (kuburan)nya masih terlihat, di antara kuburan pasukan Belanda yang mati belakangan dalam perang mereka di Aceh. Kerkhoff.
Mesum memang kasus unik semenjak dulu. Gelar yang ditabalkan untuk pasangan yang berperilaku seks di luar nikah, sesudah ikatan itu ada, label itu tentu hilang.

Hampir semua agama Tuhan melarangnya, lalu sebagian negara mentransfernya dalam hukum kenegaraan. Kendati banyak juga wilayah yang kemudian menganggapnya sebagai hak azasi, kalau pelakunya atas dasar cinta, atau sebagai profesi mencari uang, asal jangan mesum lewat jalur peksaan alias perkosaan.

Di Aceh, mesum dipandang hina, tabu, terkutuk dan pelakunya sekarang bisa dihukum cambuk. Nah... itu pun kalau ketahuan, kalau tidak, maka si mesum bisa sebebasnya melenggang kangkung. Bagi yang ketahuan, bisa juga malu seumur hidup, puluhan gelar akan melekat bersamanya; Abang Cambuk, Si Cabul, Si Pajoh Mangat sampai Si Mesum. Kalau pejabat yang melakukannya maka akan digelar Pejabat Mesum, kalau masiswa dilabeli Mahasiswa Mesum.

Begitulah... kadang yang menggelarinya atau yang sibuk krasak-krusuk juga pernah melanggar larangan itu, hanya saja belum ketahuan. Kalau ketahuan, dia juga akan bernasib sama.

Liat saja ketika petugas Wilayatul Hisbah (Polisi Syariah) yang punya tugas memantau soal hukum Syariat Islam di Aceh, terkena kasus ini medio April lalu. Pangkatnya langsung saja disandangkan, ‘Si WH Mesum’.

Soal ini, Belanda saat mencoba menaklukkan Aceh pernah melabeli orang-orang di negeri ini sebagai ‘orang yang bejat moral’. Nama ini terkait dengan tuduhan Belanda kepada orang Aceh yang sering melakukan mesum bahkan dengan anak di bawah umur, mengisap madat, dan memotong penis lawan-lawan mereka setelah mati.

Aneh tuduhan itu dilakukan oleh orang yang juga bejat, menyimpan gundik-gundik dan berperilaku seks bebas bahkan pemaksaan dengan wanita-wanita pribumi. Tenyata ada ‘udang di balik batu’, Belanda ingin memecah-belahkan kaum ulama dan pemimpin di Aceh. Satu lagi, ingin menyemangati prajurit mereka untuk melawan pejuang Aceh yang jago perang.

Naar Atchin, de kraton! Daar zetelt het kwaad.
Schuilt ontrouw, broeit zeeroof en smeude verraad.
Roeit uit dat gebroedsel, verneder die klant.
Met Nederlands driekleur ‘beschaving’ geplant.
(Ke Aceh, ke dalam, di sana bercokol kejahatan. Bersembunyi kemunafikan, bersarang perampokan dan pengkhianatan. Enyahkan komplotan, hancurkan perampokan. Tanamkan ‘peradaban’ dengan si tiga warna)

Nukilan sastra karangan Haagsma pada 1877, saat Belanda terus mencari cara mengumpulkan tentara yang mau diberangkatkan ke Aceh. Hasutan itu sebagai kampanye bahwa orang-orang Aceh bejat dan perlu diperangi.

Lama ‘bejat’ digelar dan dikampanyekan di benua lain. Sampai sebuah penelitian mendalam yang dilakukan Snouck Hurgronje pada tahun 1893 dalam bukunya ‘De Atjehers’ (orang-orang Aceh). Saat itu, belanda baru menyadari, musuh mereka adalah lawan terhormat. Tuduhan mesum dan penghisap madat terhapus.

“Akan tetapi pada waktu itu, ia (Aceh) pun sudah hampir kalah, sedang kita (Belanda) belum lagi sampai sejauh itu,” Paul Van’t Veer menulis dalam bukunya, De Atjeh Oorlog (perang Belanda di Aceh).

Terlepas dari kisah itu, terlepas dari kepentingan apapun, kisah mesum di Aceh tak ada faktor X. Orang-orang Aceh diakui taat, memegang adat minimal dalam negerinya sendiri. Banyak kalangan mengakuinya, Aceh sebagai Serambi Mekkah, sebagai representasi Islam di Nusantara, sebagai nusantara yang telah lebih dulu mengenal peradaban Islam.

Kalau ada moral yang bejat, orang tak ragu untuk melihat keturunannya. “Jangan-jangan itu bukan orang Aceh.” Kalau juga asli Aceh, keturunannya masih diperdebatkan. Dikaji berulang kali untuk tetap membuat Aceh terhormat. Fanatik yang telah ada sejak lampau.

Seorang kawan pernah berkata tentang banyaknya pelaku hubungan terlarang ini di Aceh. “Ah... itu bukan orang Aceh, orang Aceh punya moral yang sangat tinggi, gak mungkin orang Aceh melakukan itu,” katanya. “Saya sendiri tidak berani mengaku orang Aceh,” sambungnya lagi. Aku sempat berpikir, ini sindiran atau kenyataan. Mari kita menilai...

Kita anggap saja kesilapan, dan pada taraf ini siapa yang tidak ingin pada surga dunia? Soal ini, tak pandang bulu: tua-muda, Aceh-non Aceh sama saja.

Banyak buktinya, ketika pejabat mesum bukan dengan pasangannya, bahkan mengikuti trend merekam adegan. Ketahuan mereka sewot bahkan keluar Aceh. Mahasiswa juga ada yang ikut-ikutan perilaku mesum ini, sesama mereka atas kata cinta. WH pun tak bisa menahan diri, ketularan bapak polisi yang juga tertangkap basah di pojok senja. Banyak lagi dan banyak lagi....

‘Serambi Kita Ternyata Mesum Juga’, tulis Azhari, sahabat sastrawan di Komunitas Tikar Pandan. Tak salah, hanya saja kita terlambat mengakuinya dan sibuk mencari cara memadamkan mesum di bara yang panas menyala.

Kuasa mesum memang terlampau kelewat, dan hanya satu rekomendasi tentang ini; kesalahan manusiawi. Sekarang, Aceh makin marak dengan kasus ini. Atau memang dulu yang terlalu disembunyikan, karena dianggap sebagai aib?

Lalu siapa yang salah dalam perilaku mesum di Aceh: hukum cambuk, anak muda, orang tua, arus globalisasi, pendidikan, pejabat, pemerintah, pengangguran atau agama yang kelewat dangkal. Mungkin juga tak ada yang salah, semuanya manusiawi, ketika sebuah generasi mengikuti generasi sebelumnya, soal mesum.

Soal hukum tunggu dulu, adakah orang tua yang berani memancung anaknya sendiri seperti Iskandar Muda? Kalau pun ternyata ada, pasti dia akan dihukum lagi bahkan dalam kerangkeng Rumah Sakit Jiwa.

Banda Aceh, Medio 2007 (acehkita.com)