Thursday, February 25, 2016

Mata Biru Entah Kemana (1)

Oleh Adi Warsidi
[Liputan 10 tahun tsunami Aceh, Majalah Tempo Desember 2014]


Matahari tepat di atas kepala, saat kami tiba di ujung jalan Desa Gle Njong, Kecamatan Jaya atau kerap disebut Lamno. Di sebuah warung kopi, persis di sisi pantai yang telah berjejer batu-batu sebagai tanggul, kami singgah. Sepi, Jumat siang dan warga-warga sedang bersiap menuju Masjid.

Tak jauh dari warung, sebuah bukit tempat Raja-raya Daya bersemayam menghadap laut. Dari situ lah asal usul Kerajaan Daya bermula, menguasai wilayah Lamno dan menebarkan kemakmuran. Juga meninggalkan kisah tentang penjelajah bangsa Portugis, yang berbaur dengan warga dan menghasilkan keturunannya. Tsunami sepuluh tahun lalu, menorehkan kisah lain, mata biru entah kemana?


Kami disambut ramah pemilik warung, Fatimah (49 tahun) dan suaminya Zakaria, dua warga yang selamat dari amukan tsunami. Dua anak mereka menjadi korban saat ombak gergasi mengempas Kuala Daya sepuluh tahun silam. “Saya sedang di ladang di perbukitan itu,” ujar Fatimah menunjuk sebuah bukit yang berhadapan dengan makam Raja Daya.

Bukit (Glee) itu bernama Teumiga, yang berdekatan dengan Desa Ujong Seuden, tetangga Desa Glee Njong. Konon, di sanalah dulunya terdapat banyak kuburan Portugis, yang kemudian menjadi laut setelah tsunami.

Zakaria sedang di laut mencari ikan bersama beberapa warga lainnya, saat tsunami. Dia selamat dan kembali ke darat setelah air surut. “Saat kembali, saya menyaksikan kampung porak-poranda.”

Hampir tak ada bangunan yang tersisa sepanjang Kemukiman Kuala Daya, Kuala Unga dan Keuliwang serta Lambeuso. Hanya sebagian kecil warga yang selamat, umumnya laki-laki. Di sebuah dusun bernama Meunasah Darat misalnya, dari 200 orang warga hanya seperempatnya saja yang tersisa. Dan hanya enam perempuan yang hidup. Lamno, sebelum tsunami datang, dihuni oleh 23.700 penduduk di 48 desa. Sebanyak 22 desa di pesisir laut nyaris lenyap, merenggut sekitar 8.500 penduduknya.

Tsunami juga mengerus Desa Gle Njong sepanjang hampir satu kilometer dan menjadikannya laut. Warga yang tersisa bangkit membina kehidupannya kembali, rumah-rumah bantuan berdiri, bahkan ada yang tanpa penghuni dan pemukiman normal kembali bahkan lebih baik.

Kawasan Lamno yang terletak sekitar 80 kilometer dari Banda Aceh, meninggalkan cerita pilu saat tsunami datang. Beberapa ruas jalan putus di sana. Salah satu yang vital adalah Jembatan Lambeuso yang hancur dan memutuskan akses ke wilayah barat dan selatan Aceh.

Sampai 2011, akses ke sana masih terputus menunggu siapnya jembatan baru yang dibangun oleh USAID bersama jalan mulus yang dari Banda Aceh ke Calang (Ibukota Aceh Jaya) sepanjang 150 kilometer. Sebagai alternatif, warga membuat rakit di Sungai Lambeuso untuk menyeberangkan mobil-mobil kecil dan sepeda motor. Mobil berbadan besar, harus memutar jalan mengintari bukit-bukit di sepanjang Lamno, memakai jalan yang dibuat oleh TNI dulunya.

Jalan selebar 12 meter itu diresmikan pada Kamis 29 September 2011 oleh Dubes Amerika Serikat, Scot Marciel dan Gubernur Aceh kala itu, Irwandi Yusuf. Saat itu, Marciel mengatakan dengan selesainya pembangunan jalan yang hancur akibat bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004, maka akan memudahkan masyarakat Aceh untuk meningkatkan perekonomian. “Dengan selesainya jalan yang merupakan sumbangan rakyat Amerika mudah-mudahan akan bisa membantu kemajuan perekonomian Aceh,” katanya.

Kualitasnya jalan bebas hambatan yang dibangun oleh USAID ini sama dengan jalan di Amerika Serikat. Jalan ini punya kualitas di atas jalan nasional di Indonesia. USAID mengucurkan dana sekitar US$ 282 juta untuk jalan tersebut.

***
Azan berkumandang dari Masjid pertanda masuk waktu Jumatan. Zakaria mengajak kami ke masjid tak tak jauh dari warungnya. Kami pun bergegas. Zakaria, lelaki paruh baya itu tinggi kurus dan berhidung mancung. Kulitnya hitam terbakar matahari. Kalau putih, persis bangsa Portugis. “Orang-orang di sini kerap memanggil saya sebagai India.”

Tapi dia punya cerita tentang keponakannya yang tinggal di Lhoong, Aceh Besar. Namanya Munthadar. “Dia itu persis portugis, putih, mancung dan manik matanya kuning, bukan biru. Kalau jalan bersama orang bule, pasti orang akan mengiranya bule,” kata Zakaria.

Di Masjid Glee Njong, kami menemukan banyak lelaki berhidung mancung. Kendati tak ada lagi yang bermata biru. Bahkan ada seorang anak belasan tahun yang rambutnya pirang. “Dulu banyak, sekarang agak susah mencarinya,” kata Pak Mukim Kuala Daya, M Yusuf Ahmad.

Menurutnya banyak pengaruh pada perempuan keturunan Portugis semakin sulit dicari. Selain menjadi korban tsunami, juga banyak yang sudah merantau ke luar daerah. Kecantikan mereka memang terkenal, dan itu pula yang membuat banyak lelaki luar yang masuk mempersunting para gadis bermata biru.

Sekitar tiga kilometer dari sana, di Desa Male, kami menemukan satu gadis berambut pirang dan putih. Namanya Nurul Kamariah (10 tahun) anak dari pasangan Ernawati dan Muzakir. Tapi Nurul tak berhidung mancung dan tak bermata biru.

Ibunya Erna mengatakan banyak wartawan yang singgah dan memotret anaknya. Kakak Nurul yang bernama Raudhatul Jannah (15 tahun) juga berkulit sama, tapi dia sedang tinggal di pesatren untuk menuntut ilmu. Kulit mereka berdua kontras dengan ayah dan ibunya, bahkan juga saudara kandungnya yang lain. “Saudara-saudara ayah mereka, banyak yang pirang,” kata Erna.

Di sebuah warung mie Desa Male, kami berbaur dengan warga setempat. Di sana ada Sairah (25 tahun) yang putih dan berhidung mancung. “Dia rambutnya juga pirang, tapi gak bisa dilihat karena pakai jilbab,” kata seorang ibu kepada kami.

Sairah tak banyak berkomentar saat kami menanyakan soal keturunan Portugis kepadanya. “Tidak tahu bang, sambil tersenyum.” Dia tak menolak saat difoto.

Warga di sana juga bercerita tentang banyaknya mata biru atau kuning dengan kulit putih bening dan pirang yang masih bisa dijumpai di pasar-pasar, sebelum tsunami datang. Tapi kini, mereka semakin jarang bisa ditemui. Banyak yang menjadi korban dan merantau keluar dari Lamno. [bersambung]

No comments: